WHO melaporkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo meluas ke 60 zona kesehatan. (Anadolu Agency)
WHO Sebut Wabah Ebola di Kongo Meluas, Kematian Warga Sentuh 2.786
Willy Haryono • 29 August 2026 18:49
Kinshasa: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) terus meluas dengan 5.794 kasus terkonfirmasi dan 2.786 kematian.
Dalam pembaruan terbaru yang dirilis Jumat malam, WHO menyebut wabah kini telah menyebar ke 60 zona kesehatan, meningkat dari 54 zona pada laporan sebelumnya pada 14 Agustus.
Berdasarkan angka tersebut, tingkat kematian kasus (case fatality ratio) secara kasar mencapai 48,1 persen.
Dikutip dari Anadolu Agency, Sabtu, 29 Agustus 2026, WHO menilai peningkatan kasus dan perluasan wilayah penularan dalam tiga bulan terakhir menunjukkan adanya "peningkatan substansial" dalam skala wabah.
Badan kesehatan PBB tersebut mengatakan wabah Ebola masih berstatus kedaruratan kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC).
WHO memperingatkan keterlambatan dalam mendeteksi kasus dapat meningkatkan risiko penularan di lingkungan keluarga, komunitas, maupun fasilitas kesehatan.
Kasus Lintas Negara
Secara kumulatif, WHO mencatat 5.815 kasus terkonfirmasi di seluruh negara yang terdampak, termasuk 20 kasus di Uganda dan satu kasus di Prancis.Total kematian tercatat mencapai 2.788 orang, termasuk dua kematian di Uganda. Sementara itu, sedikitnya 1.314 pasien telah dinyatakan pulih. WHO juga memperingatkan risiko penularan lintas batas masih tinggi.
Pemeriksaan dan pemantauan keluar-masuk telah diterapkan di bandara, pelabuhan, serta titik perlintasan darat resmi. Namun, WHO mengingatkan bahwa masyarakat masih dapat melintasi perbatasan melalui jalur tidak resmi.
Wabah tersebut disebabkan oleh penyakit virus Bundibugyo, salah satu bentuk penyakit Ebola yang dapat menyebabkan kondisi serius.
Menurut WHO, virus dapat menyebar melalui kontak dengan darah, sekresi, organ, atau cairan tubuh lain dari orang yang terinfeksi. Penularan juga dapat terjadi melalui permukaan dan material yang telah terkontaminasi.
Risiko penularan dapat meningkat di fasilitas pelayanan kesehatan apabila prosedur pencegahan dan pengendalian infeksi tidak diterapkan secara memadai. Praktik pemakaman yang tidak aman juga dapat meningkatkan risiko penyebaran karena melibatkan kontak langsung dengan jenazah penderita.
WHO terus memantau perkembangan wabah dan memperkuat pengawasan untuk mencegah penyebaran lebih luas, termasuk melalui perbatasan internasional.
Baca juga: Demi Bertahan Hidup, Penambang Emas di Kongo Tetap Bekerja di Tengah Wabah Ebola