Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem. Foto: Press TV
Tegas! Pemimpin Hizbullah Desak Pemerintah Lebanon Mundur Berunding dengan Israel
Dimas Chairullah • 14 April 2026 12:35
Beirut: Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menolak keras rencana pertemuan antara pemerintah Lebanon dan Israel di Amerika Serikat (AS). Ia menyebut upaya diplomasi tersebut "sia-sia" di tengah intensifikasi serangan mematikan pasukan Israel terhadap wilayah Lebanon.
Melansir laporan Al Jazeera, dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Senin, Qassem mendesak pemerintah Lebanon untuk mengambil "sikap bersejarah dan heroik" dengan memboikot atau tidak menghadiri pembicaraan yang telah direncanakan tersebut.
Duta Besar Lebanon dan Israel untuk AS dijadwalkan bertemu di Washington, DC, pada hari Selasa untuk membahas penyelenggaraan negosiasi langsung antara kedua negara. Namun, Qassem menilai pembicaraan itu hanyalah taktik kotor untuk menekan Hizbullah agar meletakkan senjatanya.
"Israel dengan jelas menyatakan bahwa tujuan negosiasi ini adalah untuk melucuti senjata Hizbullah, seperti yang berulang kali dinyatakan oleh (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu. Jadi, bagaimana mungkin Anda pergi ke negosiasi yang tujuannya sudah sangat jelas?" ungkap Qassem, seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa, 14 April 2026.
"Kami tidak akan beristirahat, berhenti, atau menyerah. Sebaliknya, kami akan membiarkan medan perang berbicara sendiri," tegas Qasem.
Eskalasi konflik meningkat tajam pada awal Maret setelah Hizbullah meluncurkan rentetan roket. Serangan pada 2 Maret itu diklaim sebagai balasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei oleh AS dan Israel pada 28 Februari lalu.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata sebelumnya telah berlaku sejak November 2024, Israel dilaporkan terus melakukan serangan mematikan nyaris setiap hari. Sejak saat itu, pengeboman dan invasi darat Israel di selatan Lebanon telah menewaskan sedikitnya 2.055 orang, termasuk 165 anak-anak dan 87 petugas medis. Lebih dari 6.500 orang terluka, dan sekitar 1,2 juta warga terpaksa mengungsi.
Pemerintah Lebanon bersikeras bahwa prioritas utama mereka saat ini adalah mengamankan gencatan senjata. Sebaliknya, Israel menginginkan negosiasi perdamaian formal yang menitikberatkan pada pelucutan senjata Hizbullah, tanpa menyinggung soal gencatan senjata atau penarikan pasukan dari Lebanon selatan.
Mengutip Al Jazeera, Netanyahu pada hari Sabtu lalu menyatakan, "Kami menginginkan pelucutan senjata Hizbullah, dan kami menginginkan perjanjian perdamaian sejati yang akan berlangsung selama beberapa generasi."
Terkait hal ini, Qassem menyebut rencana pertemuan itu sebagai "konsesi cuma-cuma" yang diberikan Lebanon kepada Israel dan AS.
Pidato keras Qassem ini sejalan dengan gelombang protes di ibu kota Beirut. Ratusan demonstran turun ke jalan pada hari Jumat dan Sabtu untuk menentang rencana pembicaraan tersebut. Mereka menuduh Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengkhianati rakyat karena bersedia berdialog langsung dengan Israel, sementara Tel Aviv terus membombardir dan memperluas invasinya.
Di lapangan, militer Israel pada hari Senin mengklaim telah sepenuhnya mengepung kota strategis Bint Jbeil di selatan Lebanon. Di saat yang sama, Hizbullah menyatakan terus menggempur pasukan Israel di wilayah tersebut.
Qassem menutup pidatonya dengan peringatan keras bahwa wilayah Israel utara "tidak akan aman, bahkan jika Israel memasuki wilayah mana pun di Lebanon". Ia juga menuding Beirut telah "mengkhianati" Hizbullah karena sempat menyatakan aktivitas militer kelompok itu ilegal di awal perang.
"Israel dan AS dengan jelas mengatakan bahwa mereka ingin memperkuat tentara Lebanon untuk melucuti senjata dan memerangi Hizbullah tetapi tentara tidak akan dapat melakukan itu," pungkas Qassem.