Pendiri dan CEO Tesla-SpaceX Elon Musk. Foto: Xinhua/Yang Lei.
Tesla-SpaceX Berpotensi Merger, Ini Alasannya
Husen Miftahudin • 23 July 2026 10:08
New York: Potensi merger antara Tesla dan SpaceX dinilai semakin besar setelah isu tersebut dibahas dalam konferensi paparan kinerja keuangan kuartal II Tesla. Analis Deepwater Management Gene Munster bahkan menaikkan peluang penggabungan kedua perusahaan menjadi 90 persen.
Mengutip Investing.com, Kamis, 23 Juli 2026, Munster mengungkapkan sebelum konferensi berlangsung, ia memperkirakan peluang merger Tesla dan SpaceX berada di kisaran 80 persen dalam beberapa tahun ke depan. Namun, setelah mendengar pembahasan dalam paparan kinerja Tesla, estimasinya meningkat menjadi 90 persen.
Melalui unggahan di platform X, Munster mengaku terkejut karena isu merger Tesla dan SpaceX menjadi salah satu topik yang dibahas dalam konferensi pendapatan kuartal II Tesla. Ia menilai Elon Musk selama ini kerap menyoroti sinergi yang semakin erat antara kedua perusahaan.
Menanggapi pertanyaan analis mengenai kemungkinan merger, Musk mengatakan kolaborasi Tesla dan SpaceX terus berkembang di berbagai bidang, termasuk melalui proyek Terafab.
"Seperti yang dapat Anda lihat dari banyaknya kolaborasi di berbagai bidang dengan SpaceX, semakin banyak tumpang tindih, terutama dengan Terafab," aku Musk, mengutip konferensi pendapatan Tesla.
Meski demikian, Musk menegaskan pembahasan mengenai merger perusahaan tidak dapat dilakukan dalam forum paparan kinerja. "Jelas, kita tidak bisa membicarakan penggabungan perusahaan dan hal-hal semacam itu dalam panggilan konferensi pendapatan. Itu harus dilakukan melalui proses yang sesuai," tambah dia.
Baca Juga :
Saham SpaceX Anjlok 30%, Harga Mendekati IPO

(Logo Tesla dan SpaceX. Foto: Morningstar.com)
Kolaborasi Tesla-SpaceX terus berkembang
Spekulasi mengenai merger kedua perusahaan telah berkembang dalam beberapa bulan terakhir, terutama setelah SpaceX melantai di bursa pada Juni.
Hubungan bisnis keduanya juga semakin erat. SpaceX memanfaatkan sistem penyimpanan baterai Tesla untuk pusat data kecerdasan buatannya. Di sisi lain, Tesla telah mengintegrasikan asisten kecerdasan buatan Grok ke dalam kendaraannya serta menjual sejumlah kendaraan kepada SpaceX.
Kolaborasi tersebut juga terlihat melalui proyek Terafab yang menjadi bagian dari pengembangan bisnis chip milik Musk. Musk juga memiliki pengalaman menggabungkan sejumlah perusahaan yang dipimpinnya.
Sebelum SpaceX melantai di bursa, Musk mengintegrasikan xAI ke dalam perusahaan tersebut. Pada 2016, Tesla juga mengakuisisi SolarCity dan menggabungkannya ke dalam lini bisnis energi perusahaan.
Meski transaksi Tesla dan SolarCity lolos dari pengawasan antimonopoli, aksi korporasi tersebut sempat memicu gugatan dari pemegang saham. Gugatan itu kemudian dimenangkan Musk pada 2022.
Adapun, SpaceX mencatat debut yang kuat di pasar saham pada Juni dengan valuasi sempat mencapai USD2,6 triliun. Namun, sejak itu nilai pasar perusahaan dilaporkan menyusut hingga sekitar USD1 triliun di tengah kekhawatiran terhadap valuasi yang dinilai terlalu tinggi serta potensi aksi jual saham oleh pihak internal.
Sementara itu, saham Tesla turun hampir empat persen pada perdagangan setelah penutupan pasar. Penurunan terjadi setelah laba kuartal II perusahaan berada di bawah ekspektasi analis dan arus kas bebas (free cash flow) tercatat negatif.