Ilustrasi operasi modifikasi cuaca. Foto: BNPB.
Operasi Modifikasi Cuaca di Jatim Diperpanjang Hingga Akhir Januari 2026
Amaluddin • 6 January 2026 20:58
Surabaya: Pemerintah Provinsi Jawa Timur tak ingin mengulang pola reaktif dalam menghadapi cuaca ekstrem. Alih-alih menunggu bencana datang, Pemprov Jatim memilih memasang “tameng dini” dengan memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga akhir Januari 2026, menyusul peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengungkapkan bahwa rilis BMKG Juanda menunjukkan potensi hujan dengan intensitas tinggi masih akan berlangsung hingga Februari mendatang. Pada Januari, potensi curah hujan diperkirakan mencapai 58 persen, sementara Februari sekitar 22 persen.
“Ini bukan angka kecil. Data itu menjadi dasar kami untuk tidak menghentikan OMC, karena risiko hidrometeorologi masih nyata,” kata Gatot, Selasa, 6 Januari 2026.
Langkah ini menunjukkan pergeseran strategi penanggulangan bencana di Jawa Timur, dari sekadar penanganan pasca-kejadian menuju mitigasi berbasis data cuaca dan rekam jejak bencana. Keputusan memperpanjang OMC diambil atas arahan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, setelah mencermati tren cuaca ekstrem yang diprediksi masih mendominasi awal tahun 2026.
OMC dijadwalkan berlangsung sejak 1 hingga 31 Januari 2026. Hingga awal pekan ini, operasi tersebut telah dilaksanakan sebanyak tujuh sorti, dengan sasaran wilayah selatan Jawa Timur, selatan Pulau Madura, serta sejumlah titik di wilayah barat Jatim, daerah yang selama ini dikenal rawan banjir dan cuaca ekstrem.
Gatot menyebut pengalaman sepanjang 2025 menjadi pelajaran penting. Jawa Timur mencatat 531 kejadian bencana, yang mayoritas merupakan bencana hidrometeorologi. Rinciannya, banjir terjadi sebanyak 149 kejadian, angin kencang 147 kejadian, dan tanah longsor 21 kejadian.
“Sebagian besar bencana itu dipicu oleh cuaca ekstrem yang terjadi hampir merata di Jawa Timur. Karena itu, 2026 kami awali dengan pendekatan mitigasi, bukan menunggu bencana,” tegas Gatot.
.jpg)
Ilustrasi cuaca. Foto: Medcom.id.
Selain OMC, BPBD Jatim bersama BPBD kabupaten/kota dan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemprov Jatim juga memperkuat langkah pencegahan di darat. Upaya tersebut meliputi normalisasi dan pembersihan sungai, kesiapsiagaan personel dan peralatan, hingga pelatihan kebencanaan bagi masyarakat di wilayah rawan.
Sebagai catatan, sepanjang Desember 2025 lalu, OMC telah dilakukan sebanyak 50 sorti dengan cakupan hampir di seluruh wilayah Jawa Timur. Hasilnya dinilai cukup efektif dalam menekan potensi hujan ekstrem di beberapa daerah kritis.
Dengan kombinasi teknologi modifikasi cuaca dan penguatan mitigasi di tingkat tapak, Pemprov Jatim berharap awal 2026 tidak lagi diawali dengan lonjakan bencana. Sebaliknya, pemerintah menargetkan kesiapsiagaan yang lebih terukur dan terencana.