Maria Machado Ingin Berbagi Nobel Perdamaian 2025 dengan Trump

Maria Corina Machado meraih Nobel Perdamaian 2025. (Anadolu Agency)

Maria Machado Ingin Berbagi Nobel Perdamaian 2025 dengan Trump

Muhammad Reyhansyah • 6 January 2026 13:31

Caracas: Pemimpin oposisi Venezuela María Corina Machado menyatakan dirinya “sangat ingin” berbagi Hadiah Nobel Perdamaian dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. 

Pernyataan itu ia sampaikan dalam wawancara dengan pembawa acara Fox News, Sean Hannity, dengan menegaskan bahwa rakyat Venezuela meyakini Trump layak menerima penghargaan tersebut atas perannya dalam runtuhnya rezim Presiden Nicolas Maduro.

Machado menyampaikan pernyataan itu dalam penampilannya pada Senin, 5 Januari 2026, tak lama setelah serangan udara Amerika Serikat pada akhir pekan yang berujung pada penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Ia menilai langkah Washington menjadi titik balik bersejarah bagi masa depan politik Venezuela.

Menurut Machado, begitu mengetahui dirinya dianugerahi Nobel Perdamaian, ia langsung mendedikasikan penghargaan tersebut kepada Trump. 

“Begitu saya tahu kami dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian, saya mendedikasikannya kepada Trump karena pada saat itu saya tahu dia layak menerimanya,” ujar Machado, merujuk pada operasi militer Amerika Serikat yang berakhir dengan penangkapan Maduro, seperti dikutip Miami Herald, Selasa, 6 Januari 2026.

Dalam wawancara tersebut, Hannity menyinggung laporan bahwa Trump disebut menarik dukungan politiknya terhadap Machado sebagai calon pemimpin transisi Venezuela, sebagian karena ia menerima Nobel Perdamaian alih-alih menolaknya atau menyerahkannya kepada Trump. 

Presiden AS kemudian menegaskan posisi itu secara terbuka sehari setelah serangan, dengan menyatakan akan “sangat sulit baginya untuk menjadi pemimpin” dan menilai Machado tidak memiliki dukungan serta penghormatan yang cukup di dalam negeri.

Machado mengatakan percakapan terakhirnya dengan Trump terjadi pada 10 Oktober, bertepatan dengan pengumuman Nobel Perdamaian. Ia menyebut tetap bersyukur atas apa yang ia gambarkan sebagai “visi yang berani” dan “tindakan bersejarah” Trump terhadap apa yang ia sebut sebagai unsur “narko-teroris” dalam rezim Venezuela.

Manuver Machado Pascapenangkapan Maduro

Saat ditanya secara langsung apakah ia telah menawarkan Nobel Perdamaian tersebut kepada Trump, Machado mengatakan hal itu belum terjadi, namun ia berharap dapat melakukannya. 

“Saya tentu sangat ingin bisa secara pribadi mengatakan kepadanya bahwa kami percaya rakyat Venezuela menganggap penghargaan ini sebagai milik mereka dan benar-benar ingin memberikannya kepadanya serta berbagi dengannya,” ujarnya.

Hannity menyoroti dedikasi Machado terhadap Trump sebagai langkah yang tidak lazim, dengan mencatat bahwa ia secara terbuka menyatakan Trump “lebih layak menerimanya daripada saya," sebuah sikap yang ia sebut jarang terjadi antara tokoh politik dari negara berbeda.

Selain itu, Machado juga menyatakan berencana kembali ke Venezuela “secepat mungkin”, meski masa depan kepemimpinan negara tersebut masih belum jelas. Dengan Maduro kini berada dalam tahanan, perhatian beralih pada siapa yang akan memerintah Venezuela dan bagaimana proses transisi kekuasaan akan berlangsung.

Penolakan terbuka Trump terhadap kemungkinan Machado memimpin pemerintahan sementara dinilai memperumit skema suksesi, meskipun ia tetap menjadi salah satu tokoh oposisi Venezuela yang paling dikenal secara internasional. 

Masih belum jelas apakah pendekatan Machado terhadap Trump akan mengubah sikap Washington, sementara perdebatan di Amerika Serikat terus berlanjut mengenai legalitas, dampak, dan strategi jangka panjang dari intervensi tersebut.

Baca juga:  Nobel Perdamaian 2025 Diduga Picu Hilangnya Dukungan Trump untuk Machado

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)