Tradisi Ruwahan Masyarakat Adat Sasak Sambut Ramadan

Bangunan masjid (tampak menjulang) di lingkungan masyarakat Adat Sasak Desa Sade, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim

Tradisi Ruwahan Masyarakat Adat Sasak Sambut Ramadan

Ahmad Mustaqim • 18 February 2026 15:32

Lombok Tengah: Masyarakat adat Sasak Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengikuti kegiatan ruwahan sejak seminggu sebelum Ramadan. Kegiatan ruwahan, yang merujuk pada bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, memiliki beragam bentuk meski titik beratnya adalah membersihkan diri dan berdoa.

Ketua Pemuda Masyarakat Adat Sasak Desa Sade, Amaq Eva, mengatakan salah satu kegiatannya yakni tahlil. Kegiatan ini dilakukan dari rumah ke rumah secara bergiliran.

"Mulainya setelah zuhur sampai setelah isya," kata dia di Desa Sade, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, Senin, 16 Februari 2026.

Sekadar informasi, Amaq Eva merupakan nama sapaan di lingkungan masyarakat Adat Sasak NTB yang bermakna bapaknya Eva. Kata "Amaq" menjadi panggilan hormat bagi laki-laki yang telah memiliki anak.

Amaq Eva mengatakan tahlil dipimpin seorang kiai di desa tersebut. Sosok kiai tersebut, kata dia, menjadi satu-satunya pemimpin agama Islam di sana. Dalam sehari, tahlil dilakukan di belasan hingga 20 rumah warga.

"Kegiatan biasanya seminggu baru habis semua. Karena kegiatannya satu di sini, kiainya hanya satu untuk mendoakan setiap rumah," kata lelaki 38 tahun tersebut.
 


Ia mengungkapkan sekitar sepekan sebelum puasa, kegiatan tahlil sudah pasti dilakukan. Kegiatan itu dilakukan jauh-jauh hari sebelum Ramadan karena yang memimpin tahlil hanya satu orang.

"Karena kalau satu hari yang kami gunakan untuk giliran kiainya capek. Malah tidak bisa didoakan semua. Maka dibuat beda-beda harinya agar setiap keluarga bisa mendapat bagian," ujar lelaki dengan tiga putri ini.

Selain tahlil, ada pula tradisi membuat jenang atau bubur, di antaranya bubur putih dan bubur merah. Pembuatan bubur tersebut memiliki makna filosofis yang mendalam.

"Jadi di saat pembuatan bubur merah, semua acara stop. Tidak boleh ada acara dalam satu bulan penuh karena itu untuk memperingati seorang ibu yang melahirkan kita dengan taruhan nyawa. Bulan Ruwah itu saat kita dimasukkan roh oleh Yang Maha Kuasa. Setelahnya baru puasa, lebaran, dan lain sebagainya," kata dia.

Bubur putih dan merah dalam tradisi ini melambangkan asal-usul kehidupan manusia. Bubur merah menandakan roh yang dimasukkan ke dalam jasad, sekaligus menjadi peringatan atas jerih payah seorang ibu yang bertaruh nyawa saat melahirkan. Sementara bubur putih memiliki makna tersendiri dalam rangkaian ritual penyucian diri menjelang bulan suci.

Tradisi ruwahan masyarakat Sasak ini menjadi salah satu kekayaan budaya Nusantara yang terus dilestarikan, menunjukkan kearifan lokal dalam menyambut Ramadan dengan membersihkan diri lahir dan batin serta mempererat silaturahmi antarwarga.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)