Harvest Moon Hiasi Langit 26 September 2026, Catat Waktu Kemunculannya

Foto Harvest Moon di Minnesota, Amerika Serikat. (Tom Fisk/Pexels)

Harvest Moon Hiasi Langit 26 September 2026, Catat Waktu Kemunculannya

Riza Aslam Khaeron • 24 September 2026 13:21

Jakarta: Fenomena Harvest Moon akan menghiasi langit pada 26 September 2026. Fenomena ini merujuk pada bulan purnama yang terbit dalam waktu berdekatan dengan Matahari terbenam selama beberapa malam di sekitar ekuinoks musim gugur.

Dilansir dari Almanac, kondisi tersebut membuat langit mendapat tambahan cahaya Bulan pada awal malam. Pada masa lalu, cahaya Bulan yang lebih lama membantu petani memiliki waktu tambahan untuk memanen hasil pertanian setelah Matahari terbenam.

Kemunculan Harvest Moon berkaitan dengan waktu terjadinya ekuinoks musim gugur sehingga waktunya dapat berubah setiap tahun. Pada 2026, Bulan purnama ini mencapai fase penuh pada 26 September dan dapat diamati di sekitar waktu Bulan terbit.

Musim gugur 2026 juga akan diisi sejumlah fenomena langit lainnya, termasuk kemunculan planet yang berdampingan dengan Harvest Moon dan beberapa kesempatan untuk menyaksikan hujan meteor. Musim tersebut secara astronomis berlangsung hingga Desember 2026 di belahan Bumi utara.
 

Harvest Moon Hiasi Langit 26 September


Ilustrasi: Pexels

Harvest Moon menjadi salah satu fenomena yang dapat diamati pada musim gugur 2026. Bulan purnama tersebut mencapai fase penuh pada 26 September pukul 16.49 UTC atau sekitar pukul 23.49 WIB dan dapat diamati sekitar waktu terbitnya Bulan pada hari yang sama.

Waktu kemunculan Harvest Moon berkaitan dengan posisinya terhadap ekuinoks musim gugur. Karena hubungan tersebut, tanggal kemunculan Harvest Moon dapat berubah setiap tahun.
Fenomena tersebut menjadi salah satu kesempatan untuk melihat perubahan langit malam ketika musim gugur mulai berlangsung.
 

Apa Itu Harvest Moon?

Fenomena Harvest Moon memiliki pola terbit yang membuat Bulan muncul tidak lama setelah Matahari terbenam selama beberapa malam. Kondisi tersebut membuat langit memperoleh cahaya Bulan yang cukup terang pada awal malam.

Fenomena ini pada masa lalu membantu petani mendapatkan tambahan cahaya untuk memanen tanaman yang telah ditanam pada musim panas. Dari fungsi tersebut, istilah “Harvest Moon” kemudian digunakan untuk menyebut Bulan purnama ini.

Dalam satu tahun, terdapat sedikit lebih dari 12 siklus Bulan penuh. Satu siklus berlangsung sekitar 29,53 hari atau dikenal sebagai periode sinodis. Meski sama-sama mengalami fase purnama, Harvest Moon memiliki pola waktu terbit yang berbeda. Sepanjang tahun, Bulan rata-rata terbit sekitar 50 menit lebih lambat setiap harinya.

Namun, beberapa malam di sekitar kemunculan Harvest Moon menunjukkan perubahan waktu terbit yang lebih kecil. Di wilayah utara Amerika Serikat, Bulan dapat terbit hanya sekitar 25 hingga 30 menit lebih lambat setiap malam.
 
Perbedaannya bahkan lebih singkat di wilayah yang lebih utara, termasuk Kanada dan Eropa. Di kawasan tersebut, waktu terbit Bulan dapat bergeser sekitar 10 hingga 20 menit dari satu malam ke malam berikutnya.

Harvest Moon juga tampak terbit ketika Matahari mulai terbenam dan tetap terlihat pada waktu yang hampir sama selama beberapa malam. Kondisi tersebut terjadi karena perbedaan waktu terbit Bulan berada pada titik minimum dalam satu tahun.

Akibatnya, Bulan purnama dapat terlihat seperti muncul selama beberapa malam berturut-turut. Fenomena inilah yang membuat Harvest Moon menjadi salah satu pemandangan langit yang menarik untuk diamati pada awal musim gugur 2026.

(Angel Rinella)

(Riza Aslam Khaeron)