BRIN: Paparan Timbal Ancam Tumbuh Kembang Anak Indonesia

Gedung BRIN. Foto: Humas BRIN.

BRIN: Paparan Timbal Ancam Tumbuh Kembang Anak Indonesia

Atalya Puspa • 30 July 2026 11:19

Jakarta: Paparan logam berat berupa timbal masih menjadi ancaman bagi kesehatan anak di Indonesia. Berdasarkan Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan 14,6 persen anak yang diteliti pada 2025 memiliki kadar timbal dalam darah pada tingkat yang memerlukan perhatian.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN Tities Puspita mengatakan penelitian tersebut dilakukan bersama Fitra dan Vital Strategies untuk mengukur kadar timbal dalam darah anak sekaligus menelusuri sumber paparan di lingkungan tempat tinggal mereka. Sehingga diperlukan penguatan upaya pencegahan dan kebijakan kesehatan berbasis bukti.

"BRIN bersama Fitra dan Vital Strategies melakukan penelitian kolaboratif untuk mengukur kadar timbal dalam darah anak-anak Indonesia sekaligus menelusuri sumber paparan di lingkungan tempat tinggal mereka," kata Tities dikutip dari Media Indonesia, Kamis, 30 Juli 2026

Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel darah anak serta berbagai komponen lingkungan rumah, seperti debu, tanah, dan partikel yang menempel pada pakaian. Pendekatan tersebut bertujuan mengidentifikasi hubungan antara kondisi lingkungan dengan tingginya kadar timbal dalam darah anak.

BRIN juga menemukan sejumlah produk rumah tangga yang berpotensi menjadi sumber paparan timbal. Di antaranya mainan anak dengan potensi paparan sebesar 7,32 persen, alat makan plastik 9,55 persen, alat masak logam 20,28 persen, serta alat makan berbahan keramik 26,67 persen.

Menurut Tities, paparan timbal dapat mengganggu tumbuh kembang anak, termasuk perkembangan kognitif dan tingkat kecerdasan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap sumber paparan menjadi kunci agar langkah pencegahan dapat dilakukan secara lebih efektif.

Selain isu timbal, BRIN menyoroti dampak perubahan iklim terhadap sektor kesehatan. Peningkatan berbagai penyakit akibat perubahan iklim diperkirakan akan menambah beban pembiayaan layanan kesehatan, sehingga kebijakan pemerintah perlu didukung data ilmiah yang kuat.

Tities menegaskan hasil penelitian tidak boleh berhenti sebagai publikasi ilmiah, melainkan harus diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan yang dapat diterapkan pemerintah pusat maupun daerah.  BRIN pun terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar hasil riset dapat diadopsi dalam program kesehatan.

Ilustrasi anak. Foto: MI.

Sebagai tindak lanjut penelitian paparan timbal, BRIN melibatkan tenaga puskesmas untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Orang tua anak yang menjadi responden juga memperoleh konseling mengenai hasil pemeriksaan laboratorium serta langkah-langkah untuk mengurangi risiko paparan timbal di lingkungan rumah.

BRIN menyatakan evaluasi terhadap pelatihan bagi tenaga kesehatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta. Namun, sebagian besar penelitian masih menggunakan desain cross-sectional, sehingga efektivitas perubahan perilaku masyarakat dalam jangka panjang masih perlu dikaji melalui penelitian longitudinal.

Tities berharap riset yang dilakukan BRIN dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan kesehatan berbasis bukti sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor. 

(Anggi Tondi)