Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Minyak Anjlok, Brent Dibanderol USD83,85/ Barel
Eko Nordiansyah • 3 August 2026 08:22
Singapura: Harga minyak dunia turun hampir lima persen pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026, seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran.
Mengutip Investing, Senin, 3 Agustus 2026, harga minyak mentah Brent turun USD4,08 atau 4,64 persen menjadi USD83,85 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah USD4,01 atau 4,74 persen ke USD80,66 per barel.
Pelemahan tersebut terjadi setelah harga minyak melonjak lebih dari 20 persen pada bulan lalu. Hal ini akibat meningkatnya konflik antara AS dan Iran serta serangan terhadap sejumlah kapal tanker di sekitar Oman, sehingga memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Trump tunda serangan ke Iran
Sentimen pasar membaik setelah Trump melalui platform Truth Social menyatakan Iran dan sejumlah negara di Timur Tengah meminta waktu untuk menyelesaikan kesepakatan. Kondisi ini diharapkan dapat membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri ancaman terkait program nuklir Iran.Analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan perhatian pelaku pasar kini tertuju pada perkembangan negosiasi antara AS dan Iran.
(1).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok ICDX)
"Fokus yang lebih besar adalah apakah minggu ini akan menjadi pengulangan minggu lalu, dengan harapan kesepakatan tidak kembali gagal karena Iran tetap memanfaatkan kendalinya atas Selat Hormuz," ujar Sycamore.
Di sisi lain, data pelayaran menunjukkan dua kapal tanker bermuatan minyak Arab Saudi melintasi Selat Bab el-Mandeb dari Laut Merah pada akhir pekan. Namun, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih melambat setelah adanya laporan serangan terhadap kapal tanker.
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga melaporkan tiga insiden serangan terhadap kapal tanker sejak Sabtu.
OPEC+ tambah produksi
Dari sisi pasokan, kelompok produsen minyak OPEC+ menyepakati kenaikan kuota produksi sekitar 188 ribu barel per hari mulai September 2026.Meski demikian, dampak tambahan produksi terhadap pasar dinilai masih terbatas karena gangguan ekspor dari kawasan Teluk, Rusia, dan Kazakhstan akibat konflik di Iran dan Ukraina masih membatasi pasokan global.