AS Disebut Pertimbangkan Kirim Pasukan untuk Sita Uranium Iran

Tentara AS mengikuti latihan militer di kamp militer Novo Selo, Bulgaria, 26 September 2023. (EFE-EPA FILE/VASSIL DONEV)

AS Disebut Pertimbangkan Kirim Pasukan untuk Sita Uranium Iran

Riza Aslam Khaeron • 8 March 2026 17:00

Washington: Pemerintah Amerika Serikat dikabarkan sedang mempertimbangkan pengiriman pasukan khusus ke Iran untuk mengamankan stok uranium yang diperkaya tingkat tinggi milik Tehran. Rencana ini menjadi salah satu opsi yang dibahas dalam perencanaan perang yang sedang berlangsung.

Melansir Axios pada Sabtu, 7 Maret 2026, AS dan Israel telah melakukan diskusi mengenai kemungkinan pengerahan pasukan khusus ke Iran pada tahap lanjut perang untuk mengamankan stok uranium yang diperkaya 60 persen.

Sebanyak 450 kilogram uranium dengan tingkat kemurnian tersebut saat ini tersimpan di fasilitas-fasilitas nuklir Iran dan dapat dikonversi menjadi tingkat senjata dalam hitungan minggu.

Mencegah Iran memperoleh senjata nuklir menjadi salah satu tujuan perang yang dicanangkan Presiden Donald Trump. Dalam sebuah taklimat kongres pada Selasa, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio ditanya apakah uranium yang diperkaya Iran akan diamankan.

"Orang-orang harus pergi dan mengambilnya," jawab Rubio tanpa menyebut secara spesifik pihak mana yang akan melakukannya.

Seorang pejabat pertahanan Israel mengungkapkan kepada Axios bahwa Trump dan timnya serius mempertimbangkan pengiriman unit operasi khusus ke Iran untuk misi-misi tertentu.

Sementara itu, seorang pejabat AS menyatakan bahwa administrasi telah membahas dua opsi: mengeluarkan material dari Iran seluruhnya, atau mendatangkan ahli nuklir untuk mengencerkannya di tempat.

Misi ini kemungkinan akan melibatkan operator khusus yang bekerja bersama para ilmuwan, mungkin dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

NBC News melaporkan pada Jumat bahwa Trump telah membahas ide pengerahan sejumlah kecil pasukan AS di Iran untuk tujuan strategis tertentu.
 

Baca Juga:
Iran Digempur AS-Israel, Kenapa Houthi Diam Saja?

Seorang pejabat AS memaparkan tantangan operasional pengamanan uranium Iran.

"Pertanyaan pertama adalah, di mana lokasinya? Pertanyaan kedua adalah, bagaimana kita mencapainya dan bagaimana kita mendapatkan kendali fisik? Dan kemudian, akan menjadi keputusan presiden dan Departemen Perang, CIA, apakah kita ingin memindahkannya secara fisik atau mengencerkannya di tempat," ungkapnyal

Trump sendiri, dalam pernyataannya kepada wartawan di Air Force One pada Sabtu, mengatakan bahwa pengerahan pasukan darat memungkinkan—tetapi hanya "untuk alasan yang sangat baik."

"Jika kami pernah melakukan itu, (Iran) akan sangat hancur sehingga mereka tidak akan mampu bertempur di level darat," ujar Trump. Ditanya secara spesifik apakah pasukan mungkin masuk untuk mengamankan material nuklir, Trump tidak menutup kemungkinan.

"Pada suatu saat mungkin kami akan melakukannya. Kami belum mengejarnya. Kami tidak akan melakukannya sekarang. Mungkin kami akan melakukannya nanti," tambahnya.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada Axios bahwa Trump "dengan bijak membiarkan semua opsi yang tersedia tetap terbuka, dan tidak menutup kemungkinan apa pun."

Di luar uranium, para pejabat administrasi menyebut telah ada diskusi mengenai penyitaan Pulau Kharg, terminal strategis yang bertanggung jawab atas sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran.

Serangan bersama AS-Israel terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu disebut telah mengubur stok uranium Iran di bawah reruntuhan. Para pejabat AS dan Israel mengatakan bahwa pihak Iran sendiri belum dapat menjangkaunya sejak saat itu.

Serangan tersebut juga menghancurkan hampir semua sentrifugal Iran, dan tidak ada bukti bahwa pengayaan telah dilanjutkan.

Sebagian besar stok uranium disebut berada di terowongan bawah tanah fasilitas nuklir di Isfahan, sementara sisanya terbagi antara Fordow dan Natanz.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)