DIY Luncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan, Ini Tujuannya

Peluncuran Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ). Dok. Pemerintah DIY

DIY Luncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan, Ini Tujuannya

Ahmad Mustaqim • 4 May 2026 21:15

Yogyakarta: Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) diluncurkan di SMA N 6 Yogyakarta pada Senin, 4 Mei 2026. Melalui pendidikan tersebut ditargetkan jadi langkah strategi besar untuk menjaga jati diri generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budayanya. 

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengatakan tantangan pendidikan saat ini bukan sekadar melahirkan manusia yang cerdas secara akademik. Menurut dia, pendidikan bertujuan membentuk manusia yang utuh. 

"Sebab kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa disertai kedewasaan nilai, dapat membuat manusia kehilangan arah, bahkan tercerabut dari akar budayanya sendiri," ujar Sri Sultan.


 Peluncuran Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ). Dok. Pemerintah DIY

PKJ, kata Sri Sultan, bukan sekadar program administratif. Ia mengklaim program itu sebagai sebuah gerakan kebudayaan yang bersumber dari falsafah luhur Hamemayu Hayuning Bawana. Falsafah ini menuntun manusia untuk selalu menjaga harmoni antara sesama, alam, dan Tuhan dalam setiap sendi kehidupan.

"Pendidikan tidak boleh dipahami sebagai proses pengajaran, melainkan juga sebagai proses pembudayaan. Pendidikan harus menjadi ruang bertemunya pengetahuan, karakter, dan kesadaran hidup," ujar Sri Sultan.

Ia berujar, para pelajar yang diharapkan memiliki karakter berjiwa satriya, yakni 'sawiji, greget, sengguh, lan ora mingkuh', dipercaya akan membentuk pribadi yang mampu menghadirkan ketenteraman bagi sesama manusia  (karyenak tyasing sasama) . Hal ini disebut menjadi fondasi penting agar kemajuan intelektual tetap diiringi dengan kepekaan sosial yang tinggi.

Menurut Sri Sultan, keberhasilan pendidikan karakter ini tidak bisa hanya dibebankan kepada guru di ruang kelas semata. Efektivitas PKJ sangat bergantung pada sinergi ekosistem yang kuat antara keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.

"Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan berasal dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Bahkan lebih luas lagi, ia bertumpu pada sinergi Kraton, Kampus, dan Kampung yang menjadi ekosistem hidup bagi tumbuhnya karakter generasi," ucap Sri Sultan.

Pelajar di Yogyakarta masih menghadapi persoalan, salah satunya tindak kekerasan yang melibatkan para pelajar. Terbaru, seorang pelajar di Kabupaten Bantul tewas karena dikeroyok dengan pemicu awal persoalan geng pelajar. 

Plt. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY, Muhammad Setiadi, mengklaim implementasi PKJ menunjukkan tren positif. Menurut Setiadi, capaian indeks karakter peserta didik dinilai sangat memuaskan melalui evaluasi awal yang menunjukkan skor 4,1 dari skala 5. Ia menjelaskan angka ini merupakan buah dari proses panjang pengembangan kurikulum yang dimulai sejak tahun 2019. Program ini awalnya terinspirasi dari pidato ilmiah Sri Sultan Hamengku Buwono X saat penganugerahan Doktor Honoris Causa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang menekankan pentingnya karakter berbasis budaya.

Setiadi menjelaskan PKJ tidak disusun secara instan, melainkan melalui proses partisipatif yang melibatkan banyak pihak. Sejak tahun 2022, Disdikpora DIY telah menggelar berbagai Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan perguruan tinggi, organisasi pendidikan, hingga tokoh masyarakat.

"Pada tahun 2023, tim pengembang kemudian menyusun substansi utama yang menghasilkan empat buku panduan PKJ. Buku-buku tersebut mencakup buku induk serta panduan untuk jenjang pendidikan dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi," kata Setiadi.

Ia menambahkan, nilai-nilai utama yang diusung dalam PKJ bersifat inklusif dan kolaboratif. Materi PKJ menyerap nilai luhur dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kadipaten Pakualaman, Tamansiswa, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah, yang dipadukan dengan nilai-nilai pendidikan modern.

"Implementasi PKJ di satuan pendidikan tidak hanya berhenti sebagai mata pelajaran sejarah saja. Nilai-nilai tersebut diintegrasikan langsung dalam budaya sekolah dan praktik kehidupan sehari-hari di lingkungan pendidikan guna memastikan siswa benar-benar menghidupi budaya tersebut," ucapnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)