23 October 2026 17:22
Aparat penegak hukum berhasil membongkar laboratorium gelap (clandestine laboratory) pembuat narkotika jenis sabu kelas atas atau Blue Ice terbesar di Pidie, Aceh Darussalam. Penindakan berskala besar melalui operasi terpadu (join operation) ini menggagalkan peredaran hampir 1,2 ton sabu bernilai fantastis sekaligus memutus potensi kerusakan generasi muda Indonesia.
Operasi bersama tersebut melibatkan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Badan Narkotika Nasional (BNN), serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah, tokoh agama, ulama, dan masyarakat setempat.
Saat meninjau lokasi pabrik gelap di Pidie, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, menyampaikan kebahagiaannya dapat bertatap muka langsung dengan para tokoh dan elemen masyarakat setempat.
"Saya sangat berbahagia sekali karena bisa hadir di Pidie ini. Ternyata Pidie ini memiliki nilai sejarah yang sangat luar biasa dan saya bisa sekaligus bertatap muka dengan tokoh-tokoh masyarakat di sini dan juga segenap elemen masyarakat," ujar Jenderal Pol Suyudi Ario Seto dalam tayangan Breaking News Metro TV, Jumat, 23 Oktober 2026.
Kapolri memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh personel tim gabungan yang berhasil membendung masuknya barang haram tersebut ke Tanah Rencong.
"Rasa bangga saya kepada seluruh tim yang terlibat baik Polri, BNN, dan Bea Cukai. Saya ucapkan selamat atas pengungkapan menyelamatkan anak bangsa ini, yaitu masuknya narkotika jenis sabu ke wilayah Aceh Darussalam," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa fokus utama dan capaian terpenting dari penindakan ini adalah perlindungan terhadap masa depan anak-anak bangsa.
"Dan yang paling penting kita bisa menyelamatkan anak bangsa kita dari kehancuran yang bisa merusak masa depan anak-anak kita," tegas Suyudi.
Kapolri menceritakan pengalamannya saat melihat langsung fasilitas produksi sabu bernilai tinggi tersebut di lokasi kejadian.
"Tadi saya berkunjung melihat langsung bagaimana Clandestine Laboratory atau laboratorium gelap pembuatan sabu dengan nilai yang sangat tinggi dan sabu yang sangat dibilang terbaik atau dikenal dengan Blue Ice yang bisa kita ungkap," terangnya.
Keberhasilan pembongkaran pabrik haram ini disebut tak lepas dari keterpaduan kerja sama aparat penegak hukum dan peran aktif warga lokal.
"Tentunya berkat kolaborasi, keterpaduan join operation antarlembaga baik Polri, BNN, Bea Cukai, dan didukung oleh masyarakat setempat, kita telah berhasil mengungkap hampir 1,2 ton sabu yang tentu nilainya ini sangat fantastis," lanjutnya.
Baca Juga :
Jenderal Suyudi juga membeberkan kronologi serta rute perjalanan jaringan internasional asal Tiongkok yang membawa bahan baku narkotika tersebut.
"Pada bulan Februari 2026, jaringan narkotika asal Tiongkok terdeteksi mengangkut ratusan kilogram metamfetamin cair atau liquid methamphetamine dari Myanmar Utara melintas Laos dan Thailand sebelum tiba di tujuan akhir yaitu Banda Aceh, Indonesia pada tanggal 18 Mei 2026," paparnya.
Dua warga negara asing (WNA) asal Tiongkok berinisial LJ (45) dan XM (42) yang bertindak sebagai koki utama atau ahli kimia, tiba di Banda Aceh pada 24 Mei 2026 dan menginap di hotel selama 10 hari untuk melakukan survei lokasi.
Pada akhir Juli 2026, jaringan tersebut melanjutkan pengiriman tahap kedua berupa hampir 1 ton metamfetamin cair melalui rute serupa. Untuk mengelabui petugas saat pemeriksaan, para pelaku menyamarkan bahan baku cair tersebut.
"Cairan disamarkan dalam kaleng hijau bermerek Titan Pro untuk mengelabuhi petugas pada saat pengecekan," tutur Kapolri.
Kedua tersangka asing tersebut kemudian terbang menuju Kuala Lumpur pada 15 Oktober 2026 untuk bertemu dengan tersangka warga negara Indonesia berinisial B serta dibantu oleh tersangka MN dalam penyiapan akomodasi.
Pengungkapan laboratorium Blue Ice ini menjadi bukti nyata bahwa keterpaduan antarlembaga serta kepedulian masyarakat merupakan benteng terkuat dalam memutus mata rantai peredaran narkotika jaringan internasional dan melindungi masa depan bangsa.