.,

Polri Didesak Ungkap Jaringan TCC

8 January 2026 18:00

Jakarta: Temuan terbaru mengenai komunitas True Crime Community (TCC) yang berisi anak-anak berusia 11 hingga 18 tahun menjadi sorotan, setelah kasus pengeboman di SMA Negeri 72 Jakarta. Polri didesak untuk segera mengungkap dalang dari komunitas tersebut.

Komunitas TCC awalnya berkembang dari perbincangan tertutup di grup daring yang membahas video gore atau konten ekstrem yang menampilkan kekerasan. Dari kegemaran menonton konten tersebut, anak-anak kemudian direkrut ke grup khusus. Mereka perlahan di-grooming menuju perilaku kekerasan.

Di dalam grup, para anggota saling bertukar informasi tentang cara membuat alat untuk tindakan kekerasan, seperti pelaku SMA 72 yang mampu merakit tujuh bom—empat meledak dan tiga gagal. Rildwan menyebut bahwa tidak mungkin anak-anak belajar secara mandiri, mereka difasilitasi oleh kelompok ini.

“Nah, saya sungguh berharap Polri tidak berhenti pada anak-anak ini saja, tetapi juga mencari dalang intelektual di balik grup ini. Ini pasti ada otak atau dalang yang memanfaatkan anak-anak untuk kepentingan dia atau untuk kepentingan kelompoknya,” ujar Analis terorisme dan pengamat intelijen, Ridlwan Habib, dalam program Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Kamis, 8 Januari 2026.

Ia juga menyoroti kemungkinan adanya dukungan berupa instruksi teknis, pasokan dana melalui Bitcoin atau kripto, dan penyebaran narasi ideologis yang menyebut bahwa dunia berada dalam ancaman, sehingga mereka dipersiapkan sebagai 'pahlawan penyelamat'.
 

 

 

Ridlwan juga menyoroti bahwa jejaring kelompok ini berpotensi internasional. Pernyataan dari juru bicara Densus 88 yang menyebut aksi pengeboman SMA 72 menginspirasi penusukan di Rusia, menjadi alasan kuat yang melandasi analisis tersebut.

“Berarti ini jejaringnya sudah internasional. Sudah bukan lagi sekedar anak-anak iseng di di Indonesia, tetapi meluas jaringnya secara internasional,” kata Ridlwan.

Menurut Ridlwan, keberadaan komunitas tersebut terungkap setelah penyidik Densus 88 melakukan pendalaman terhadap alat komunikasi milik pelaku pengeboman SMA 72. Ia menyebut bahwa tanpa kasus tersebut, jaringan TCC mungkin tidak terdeteksi dan berpotensi memicu aksi yang lebih ekstrem. Hingga kini, Densus 88 telah mengidentifikasi sekitar 70 anak yang terlibat dalam grup TCC.

Ridlwan menyebut kondisi ini sangat memprihatinkan, karena menunjukkan anak-anak telah terpapar ideologi ekstrem secara senyap, termasuk paham neonazi dan white supremacy yang mendorong kekerasan.

Pada awalnya banyak pihak menganggap aksi pengeboman di SMA 72 hanya soal balas dendam akibat bullying, tetapi penyelidikan justru membuktikan adanya keterkaitan dengan ideologi berbahaya.




(Nada Nisrina)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Gervin Nathaniel Purba)