Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah insiden penyitaan kapal kargo berbendera Iran di perairan Teluk Oman. Peristiwa ini menjadi eskalasi terbaru yang turut berdampak pada pengetatan jalur strategis dunia di Selat Hormuz.
Amerika Serikat menyita kapal kargo Iran bernama Touska yang diduga mencoba menghindari blokade laut. Kapal tersebut dihentikan oleh kapal perusak rudal kendali AS setelah menerima peringatan berulang selama enam jam. Presiden Donald Trump mengklaim militer AS bahkan meledakkan bagian ruang mesin kapal untuk menghentikan lajunya.
Saat ini, marinir AS dilaporkan telah menguasai kapal dan tengah melakukan pemeriksaan terhadap muatan kargo. Insiden ini menjadi yang pertama sejak AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pekan lalu, sekaligus membayangi rencana negosiasi yang sebelumnya direncanakan berlangsung dalam waktu dekat.
Merespons tindakan tersebut, Iran langsung memperketat pengawasan pelayaran di kawasan. Kendali atas Selat Hormuz kini kembali berada di bawah pengawasan ketat Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Pengetatan ini ditunjukkan dengan penghentian sebuah kapal kontainer asal India yang hendak melintas. Dalam komunikasi radio, Angkatan Laut
Iran secara tegas memerintahkan kapal tersebut untuk berbalik arah karena tidak memiliki izin melintas di tengah penutupan jalur tersebut.
Iran menilai langkah ini sebagai respons atas tindakan Amerika Serikat yang dianggap melanggar gencatan senjata dan mengganggu kebebasan navigasi. Teheran bahkan menyebut tindakan Washington sebagai bentuk “perampokan dan pembajakan” di laut.
Sementara itu, Presiden Donald Trump menyebut Iran mulai bertindak provokatif dengan kembali menutup Selat Hormuz. Meski demikian, ia mengklaim bahwa pembicaraan antara kedua negara masih berlangsung dengan baik dan menyatakan pihaknya tetap mengambil sikap tegas.
"Kita akan membicarakan Iran nanti. Kami sedang melakukan percakapan yang sangat baik. Semuanya berjalan dengan sangat baik. Mereka sedikit bermain-main seperti yang telah mereka lakukan selama 47 tahun. Mereka ingin menutup Selat itu lagi," ucap Trump, dikutip dari tayangan
Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Senin 20 April 2026.
Hingga kini, Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait penyitaan kapal Touska. Namun, selama ketegangan belum mereda, Selat Hormuz dipastikan tetap berada dalam pengawasan ketat.