Ribuan warga hingga wisatawan memadati berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Pulau Bali hingga Jawa Timur, untuk menyaksikan parade ogoh-ogoh dalam rangka menyambut Hari Suci Nyepi. Tradisi tahunan ini digelar sebagai simbolisme pembersihan alam semesta dari unsur-unsur negatif dan sifat buruk manusia.
Di Denpasar, Bali, ribuan warga dan wisatawan telah memadati titik nol kilometer Kota Denpasar sejak siang hari. Berbagai patung raksasa hasil kreativitas Sekaa Teruna Teruni (STT) diarak dengan iringan musik gamelan Baleganjur.
Tokoh adat setempat menjelaskan bahwa ritual ini merupakan simbol pengusiran Bhuta Kala—kekuatan negatif—baik dari dalam diri manusia maupun dari alam semesta.
Setelah parade usai, seluruh aktivitas di Pulau Dewata akan berhenti total selama 24 jam mulai Kamis pagi, seiring dengan dimulainya pelaksanaan Catur Brata Penyepian.
Suasana unik terlihat di Desa Balun,
Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, yang dikenal sebagai Desa Pancasila. Sebanyak delapan ogoh-ogoh diarak warga keliling desa sebelum akhirnya dibakar di lapangan setempat sebagai simbol pemusnahan hawa nafsu.
Menariknya, perayaan Nyepi tahun ini bersanding dengan persiapan Lebaran umat Muslim. Tokoh lintas agama di Desa Balun telah bersepakat untuk saling menjaga dan menghormati jalannya ibadah masing-masing, termasuk saat pelaksanaan takbiran dan Nyepi yang berjalan beriringan.
"Kami meningkatkan toleransi beragama supaya terjaga dengan baik dengan dasar melakukan pengekangan hawa nafsu," ujar pemangku Pura Sweta Mahasuci Mangku Tadi.
Semangat yang sama juga terlihat di Kota Malang, di mana Lapangan Brawijaya Rampal menjadi pusat pawai lima karakter ogoh-ogoh, seperti angkara murka tungkul, gedhug meled, hingga rudra dursasana. Karakter-karakter ini diparadekan sebagai representasi perlawanan terhadap sifat-sifat jahat yang ada pada manusia.
Usai keriuhan parade dan pengarakan ogoh-ogoh, umat Hindu di seluruh daerah tersebut akan memasuki masa hening untuk merenung dan menyucikan diri di tahun yang baru. Mereka akan menjalani empat pantangan utama dalam
Catur Brata Penyepian, yaitu:
- Amati Geni (tidak menyalakan api/cahaya).
- Amati Karya (tidak bekerja).
- Amati Lelungan (tidak bepergian).
- Amati Lelanguan (tidak mencari hiburan).