Meski perjanjian gencatan senjata telah disepakati sejak 10 Oktober lalu, penderitaan warga Palestina di Jalur Gaza belum berakhir. Militer Israel terus memperluas wilayah kekuasaannya dan memperketat pembatasan ruang gerak warga melalui penetapan area yang disebut sebagai "Garis Kuning".
Perluasan zona kendali ini memaksa ribuan keluarga hidup dalam pengungsian tanpa kepastian masa depan.
Warga di lingkungan Al-Tuffah, bagian timur Kota Gaza, kini didera kegundahan luar biasa. Blok-blok beton berwarna kuning mulai ditempatkan di sela-sela reruntuhan rumah untuk menandai batas penguasaan wilayah oleh Israel. Akibatnya, akses warga Palestina kini terbatas hanya di kurang dari 40 persen wilayah Jalur Gaza.
Safa Mushtaha, salah seorang warga Al-Tuffah, mengungkapkan keputusasaannya. "Kita harus pergi ke mana? Ini pertanyaan yang telah kita tanyakan pada diri sendiri selama tiga tahun. Kami menerima tinggal di dekat Garis Kuning, menerima penghinaan, tapi kondisi ini tidak lagi dapat ditanggung," keluhnya, dikutip dari tayangan Metro Siang, Metro TV, Selasa 8 September 2026.
Hal senada disampaikan Ola Eshtawi. Ia merasa nyawanya dan keluarganya selalu terancam setiap saat. "Kami tidak punya tenda, tidak punya uang. Kapan saja kami bisa dipaksa meninggalkan barang-barang kami dan mengungsi. Kami bahkan takut kehilangan anak-anak karena evakuasi yang terburu-buru," ujar Ola.
Teror Drone di Al-Zeitoun
Situasi di wilayah Al-Zeitoun tidak kalah mencekam. Warga setempat merasa tidak ada perdamaian nyata meski di atas kertas terdapat perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Intimidasi dan ancaman pengusiran terjadi berulang kali.
"Tidak ada gencatan senjata di sini. Setiap dua atau tiga bulan, kami terpaksa mengungsi lagi. Kami sudah kehilangan banyak anak dalam perang ini, kami kini hanya menjadi sisa-sisa," ungkap Ibtisam Malaka dengan nada getir.
Selain ancaman fisik,
trauma psikologis juga menghantui anak-anak. Ahmed Erhaim, warga Al-Zeitoun lainnya, menuturkan bahwa suara drone militer di malam hari membuat warga tidak bisa tidur. "Anak-anak kami ketakutan, beberapa bahkan mulai mengompol karena trauma. Sebagian besar penduduk di sini sudah mengungsi. Ini bukan kehidupan yang layak," tegasnya.
Krisis Kemanusiaan yang Masif
Data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menunjukkan skala krisis yang sangat memprihatinkan:
- Populasi Terdampak: Sebagian besar dari 2,1 juta penduduk Gaza masih hidup di pengungsian.
- Kebutuhan Dasar: Sekitar 1,98 juta orang (94% populasi) membutuhkan tempat tinggal dan bantuan barang non-makanan.
- Krisis Hunian: Sebanyak 58% warga menghadapi kebutuhan tempat tinggal yang masuk dalam kategori tingkat bencana.
Perluasan wilayah pendudukan dan intimidasi yang terus berlangsung memastikan bahwa warga Palestina di
Jalur Gaza masih harus berjuang keras untuk sekadar bertahan hidup di tengah puing-puing bangunan dan blok beton kuning.