Program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina terus dikembangkan untuk mendorong kemandirian energi dan pertumbuhan ekonomi masyarakat desa. Kolaborasi dengan perguruan tinggi dinilai memperkuat dampak program.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Salah satunya melalui pemanfaatan energi terbarukan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi desa.
Di Pulau Sembur, Kepulauan Riau, misalnya. PLTS berkapasitas 1 Megawatt peak dimanfaatkan 200 kepala keluarga (KK), termasuk untuk pabrik es dan cold storage bagi nelayan.
Sedangkan di Sari Mukti, Kabupaten Bandung, limbah cair diolah menjadi gas metana untuk mengurangi konsumsi elpiji dan dikembangkan menjadi hidrogen.
"Kami bersama dengan banyak kampus berusaha untuk mengejar pembangunan di berbagai desa. Mulai dari pembangunan biogas dari limbah cair. Kemudian jika tidak ada sampah, kami kejar dari tenaga surya. Jika tidak ada tenaga surya, kami kejar tenaga angin, dan seterusnya," kata Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza, dalam program
Metro Siang Metro TV, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Tidak hanya sebatas kampus. Kata Oki, Pertamina juga akan bermitra dengan kementerian. hHarapannya agar Pertamina tidak hanya berkontribusi untuk mandat kedaulatan energi, tapi juga membantu menciptakan nilai tambah di masyarakat.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek)
Brian Yuliarto menilai program DEB sejalan dengan peran perguruan tinggi untuk memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
"Kami memandang program ini sangat strategis, karena memang sesuai arahan bapak presiden, bagaimana perguruan tinggi tidak hanya berhenti di ruang-ruang kelas, tetapi harus memberikan dampak bagi masyarakat sekitar," kata Brian.
Ke depan, Pertamina bersama pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat akan terus memperluas program DEB, agar pemanfaatan energi terbarukan tak hanya memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga membuka peluang usaha dan memperkuat ekonomi desa.