Pakar Imbau Pemprov Jakarta Teliti Manfaat Ekonomi Ikan Sapu-Sapu

15 April 2026 14:53

Lonjakan populasi ikan sapu-sapu di sejumlah sungai Jakarta menjadi perhatian serius pemerintah dan pegiat lingkungan. Spesies invasif yang berasal dari Amerika Selatan ini kini mendominasi perairan, mengancam keseimbangan ekosistem, hingga menimbulkan potensi bahaya bagi kesehatan manusia.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun bergerak cepat. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan akan menggelar rapat khusus untuk membahas penanganan ikan sapu-sapu serta meminta seluruh wali kota di wilayah Jakarta turut mengambil langkah konkret.

Keberadaan ikan sapu-sapu tidak bisa dianggap sepele. Selain merusak tanggul sungai karena kebiasaannya membuat lubang di bantaran, ikan ini juga bersifat predator yang menghabiskan sumber makanan ikan lokal. Jika tidak segera dikendalikan, kondisi ini dikhawatirkan akan merusak keseimbangan ekosistem perairan, termasuk di Sungai Ciliwung.

Selain itu, ikan sapu-sapu memiliki kemampuan reproduksi yang sangat tinggi. Setiap kali bertelur, satu induk betina dapat menghasilkan hingga ribuan telur. Terlebih, spesies ini tidak memiliki predator alami di Indonesia, sehingga populasinya berkembang pesat. Data menunjukkan, dalam kurun waktu lebih dari satu dekade, jumlah ikan sapu-sapu di beberapa sungai meningkat drastis hingga puluhan kali lipat.

Upaya pengendalian sebenarnya sudah dilakukan. Operasi penangkapan digelar di sejumlah titik, seperti Kali Cideng dan kawasan Lenteng Agung, dengan melibatkan ratusan personel gabungan. Namun, skala masalah yang besar membuat penanganan ini membutuhkan strategi yang lebih komprehensif.
 

Mencari nilai ekonomi


Pegiat lingkungan, Arief Kamarudin, menilai penangkapan massal perlu dibarengi dengan pendekatan berkelanjutan. Ia mengusulkan adanya penelitian untuk mencari nilai ekonomi dari ikan sapu-sapu agar upaya pengendalian bisa berjalan konsisten.
 
"Kalau saran dari saya kita harus teliti dulu sampai sejauh ini kan kita belum tahu sapu-sapu itu bisa dimanfaatkan untuk apa ya gitu kita harus teliti dulu. Siapa tahu ikan sapu-sapu bisa dimanfaatkan untuk hal yang bisa dapat duit. Misalnya ikan sapu-sapu ternyata bisa dijadikan pupuk gitu kan. Pupuk itu kan bisa dijual ya kalau ada nilai ekonomisnya nanti pasti bakal banyak yang nyari tuh karena karena kalau misalnya kita cuma musnahin doang saya sih yakin kegiatannya nggak akan berlangsung lama," ujar Arief, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Rabu 15 April 2026.

Menurutnya, jika ikan tersebut memiliki nilai jual, masyarakat akan terdorong untuk ikut menangkap tanpa perlu instruksi khusus. Sebaliknya, jika hanya dimusnahkan tanpa manfaat ekonomi, upaya tersebut berpotensi tidak bertahan lama, karena membutuhkan biaya besar dan waktu panjang.

Di sisi lain, aspek kesehatan juga menjadi sorotan. Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam, mengingatkan bahwa ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar berisiko membawa zat berbahaya.

"Nah tadi kalau kita yang risiko pertama tentu kan kita tahu banyak kandungan logam merkuri dan ini yang memang akan dikonsumsi atau dimakan oleh ikan sapu-sapu tersebut. Nah inilah yang memang salah satu yang kita mesti hati-hati apabila ikan ini dikonsumsi ini dari satu dari sisi bahwa kalau dia sudah tercemar logam berat," ujar Ari.

Ikan ini diketahui hidup di dasar sungai dan mengonsumsi berbagai material, termasuk limbah yang mengandung logam berat seperti merkuri. Jika dikonsumsi manusia, zat tersebut dapat terakumulasi dalam tubuh dan berdampak pada organ vital seperti ginjal dan hati. Selain itu, potensi paparan mikroplastik, bakteri, dan parasit juga menambah risiko kesehatan.
 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Reno Panggalih Nuha Lathifah)