Ini Dua Strategi Pemerintah dan BI Jaga Stabilitas Rupiah

6 June 2026 13:13

Pemerintah Republik Indonesia bersama Bank Indonesia (BI) berkomitmen untuk mempererat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang tengah menghadapi tekanan. Langkah strategis ini diambil untuk memastikan fundamental ekonomi nasional tetap kokoh dan memberikan dampak positif langsung bagi masyarakat, terutama dalam menjaga daya beli. 

Dalam pertemuan koordinasi yang berlangsung pada Sabtu 6 Juni 2026, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyepakati sejumlah langkah krusial untuk menahan pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa sinkronisasi kebijakan saat ini difokuskan pada dua instrumen utama:

  • Peningkatan Daya Tarik Imbal Hasil: Pemerintah dan BI sepakat meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), untuk mendorong kembalinya aliran modal asing (capital inflow) ke dalam negeri. Langkah ini ditempuh di tengah tingginya suku bunga global yang memicu arus keluar modal dari pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN0 maupun sekuritas Rupiah Bank Indonesia.
  • Pengelolaan Likuiditas Pasar: Menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan melalui pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di BI, disertai dengan peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan BI kepada pemerintah.
“Koordinasi fiskal dan moneter selama ini sangat erat. Saat ini difokuskan bagaimana keduanya seirama, saling mendukung, dan memperkuat upaya bersama untuk stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai kewenangan masing-masing,” ujar Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Breaking News Metro TV, Sabtu, 6 Juni 2026.
 
Baca juga: Pemerintah bakal Genjot Sejumlah Program Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menambahkan bahwa kebijakan fiskal akan terus dioptimalkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Menurutnya, sinergi penuh antara otoritas fiskal dan moneter diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan pasar sehingga rupiah tidak lagi melemah ke level yang lebih tinggi.

"Kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, itu harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke nilai rupiah, sehingga rupiah akan meningkat secara signifikan dan tidak akan melemah lagi ke level yang lebih tinggi dari sekarang," jelas Purbaya.

Sinergi ini juga bertujuan melindungi masyarakat menengah ke bawah. Purbaya menyoroti beban produsen tahu dan tempe yang tergerus keuntungannya akibat biaya impor bahan baku yang membengkak. 

"Dengan kebijakan yang lebih bagus, kita akan melihat rupiah yang lebih stabil sehingga pedagang dan ibu rumah tangga tidak terbebani kenaikan beban hidup yang signifikan," jelasnya.

Selain stabilitas nilai tukar, pemerintah terus mendorong percepatan program di sektor riil, khususnya di bidang pangan, energi, perikanan, serta hilirisasi industri. Meskipun tantangan global masih membayangi, pemerintah optimistis bahwa dengan fundamental ekonomi yang kuat dan koordinasi yang intens, ekonomi Indonesia akan tetap tumbuh tangguh.

(Anggie Meidyana)