2 September 2026 13:26
Jakarta: Sekilas, axolotl mungkin terlihat seperti salamander biasa dengan wajah yang menggemaskan. Namun, hewan asal Meksiko ini memiliki kemampuan yang membuatnya berbeda dari kebanyakan amfibi, yakni dapat meregenerasi sejumlah bagian tubuhnya. Di balik keunikannya, axolotl justru menghadapi ancaman serius di habitat alaminya.
Axolotl atau Ambystoma mexicanum merupakan salamander air tawar asal Meksiko yang dikenal karena penampilannya yang khas dan kemampuan meregenerasi bagian tubuh. Hewan ini populer sebagai hewan peliharaan dan objek penelitian, tetapi populasinya di habitat alami terus terancam.
Axolotl memiliki ciri biologis yang berbeda dari sebagian besar amfibi. Sebagian besar amfibi mengalami perubahan bentuk atau metamorfosis dan mengembangkan paru-paru untuk hidup di darat. Sementara itu, axolotl mempertahankan bentuk larva sepanjang hidupnya, termasuk memiliki insang luar, ekor, dan kebiasaan hidup di air. Mengutip laman WWF Canada, kondisi tersebut dikenal sebagai neoteni.
Salah satu karakteristik utama axolotl adalah kemampuan regenerasi. Ketika kehilangan anggota tubuh, seperti kaki atau ekor, axolotl dapat menumbuhkannya kembali. Kemampuan tersebut juga mencakup bagian tertentu dari jantung, tulang belakang, dan otak. Axolotl bahkan mampu meregenerasi lengan, kaki, jari, dan ekornya.
Kemampuan regenerasi tersebut membuat axolotl menjadi objek penelitian ilmiah sejak lama. Peneliti masih mempelajari mekanisme biologis yang memungkinkan hewan ini memperbaiki dan membentuk kembali jaringan tubuhnya.
Meski banyak ditemukan di akuarium dan laboratorium, kondisi axolotl di alam liar berbeda. Mengutip laman National Geographic, axolotl di alam liar hanya ditemukan di kompleks Danau Xochimilco yang berada di dekat Mexico City, Meksiko. Populasinya terus mengalami penurunan akibat berbagai ancaman terhadap habitatnya.
Penyusutan habitat, pencemaran air, urbanisasi, serta masuknya spesies invasif menjadi sejumlah faktor yang mengancam keberlangsungan populasi axolotl. Ikan invasif seperti karper dan tilapia juga menjadi ancaman karena dapat memangsa telur axolotl dan bersaing mendapatkan makanan. Berbeda dengan populasi yang dikembangbiakkan di penangkaran, axolotl liar harus menghadapi perubahan kondisi lingkungan secara langsung.