Jakarta: Kali ini kita update perkembangan situasi di Timur Tengah, yang belakangan ini lebih dinominasi oleh sikap dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang terus menggerutu tentang penolakan sekutu NATO, terus teman-teman sekutu di Pasifik juga menolak untuk terlibat dalam pembukaan kembali Selat Hormuz.
Nah, dengan segala gerutu dan sikap Trump ini, baik dalam pidato dan pernyataan kasar di media sosial, membuat Iran menyikapinya dengan menyebut Amerika Serikat telah kehilangan kredibilitas diplomatiknya. Presiden AS, terus menggerutu tentang penolakan sekutu NATO untuk terlibat dalam pembukaan kembali Selat Hormuz dan keengganan mereka untuk membantu operasi ofensif AS terhadap Iran. Saat mengakhiri konferensi persnya yang panjang pada hari Senin, 6 April kemarin, ia juga meluapkan kemarahannya tentang kurangnya dukungan dari sekutu-sekutu Pasifik.
Sebelumnya, dalam unggahan di media sosial pribadinya, Truth Social, pada Minggu, 5 April, Trump dengan kata-kata kasar menuntut Iran segera membuka Selat Hormuz dan kembali mengancam Iran jika tuntutan itu tidak dilakukan. Trump mengatakan akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan Iran pada hari Selasa ini jika Selat Hormuz tetap ditutup untuk lalu lintas maritim. Pembangkit listrik di Iran akan dihancurkan pada 12 malam esok, di mana setiap pembangkit listrik di Iran akan hancur, terbakar, dan tidak akan digunakan lagi.
Atas sikap Trump, Iran sempat menanggapi Donald Trump sebagai sosok yang tidak stabil dan delusi. Jurubicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Bagayi, pada hari Senin mengatakan Amerika Serikat telah kehilangan kredibilitas diplomatiknya dan menuduh Washington mengatakan satu hal dan melakukan hal lain dengan mengancam akan melakukan serangan lebih lanjut. Sementara pada saat yang sama, AS mengusulkan negosiasi. Bagayi mengatakan, AS telah dua kali menyerang Iran selama negosiasi, melakukan kejahatan perang, dan menunjukkan pengabayannya terhadap diplomasi.
Memang salah. Mengenai situasi di Selat Hormuz, Bagayi mengatakan, dalam beberapa hari terakhir Iran telah mengambil serangkaian langkah keamanan untuk melindungi selat ini. Iran telah memperjelas, mereka sama sekali tidak akan mengizinkan kapal musuh untuk melewati wilayah ini dan menegaskan segala upaya yang dilakukan difokuskan untuk membela negara.
Nah, pernyataan Donald Trump terkait Iran melalui platform True Social dalam dua pekan terakhir ini menunjukkan perubahan nada yang signifikan dari ancaman militer hingga pernyataan diplomasi. Kemudian Trump ini saat menyikapi perang yang ia buat sendiri di Iran dan sekarang pusing sendiri. Kita masuk di informasi yang pertama, pada 22 Maret Trump sempat mengeluarkan pernyataan ini pemirsa bahwa ada ultimatum agar Iran membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Ia menyatakan bahwa jika tuntutan ini tidak dipeduhi, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan infrastruktur energi Iran termasuk membangkit listrik. Nah, di sini langsung ultimatum militer dan sudah spesifik targetnya adalah pembangkit listrik. Kita bergeser, sehari kemudian di 23 Maret Trump ini menyampaikan bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung sangat baik dan produktif dalam tanda kutip.
Ia bahkan mengaku sudah memberitakan penundaan seluruh rencana serangan militer selama 5 hari untuk memberikan ruang bagi proses diplomasi. Nah, kalau kita simak pemirsa di sini ada pembicaraan yang sangat produktif saya telah memberitakan penundaan semua serangan militer selama 5 hari. Kalau kita lihat di sini berubah ya, diplomasi kemudian berubah menjadi optimis, diplomatis, bahkan menunda serangan.
Ini yang kita baca. Nada serupa kembali disampaikan pada tanggal 30 Maret ketika Trump menyebut adanya dalam tanda kutip lagi, kemajuan besar dalam pembicaraan. Meski demikian, ia tetap menegaskan ancaman bahwa serangan terhadap fasilitas energi Iran akan dilakukan jika kesepakatan tidak tercapai.
Respons Trump ini ambigu, damai iya, ancaman tetap jalan. Selanjutnya, kita bergeser ke tanggal 3 April. Ini pernyataan dari Trump kembali mengeras. Ia menegaskan kekuatan militer Amerika dan menyebutkan target potensial berikutnya adalah jembatan dan pembangkit listrik di Iran. Di sini Trump menampilkan show of force dengan framing bahwa Iran ini sudah setengah dihancurkan. Tapi malamnya, dia posting lagi, menganggap konflik ini menjadi bisnis.
Pada hari yang sama, dalam unggahan terpisah, Trump juga menyinggung potensi keuntungan ekonomi jika Selat Hormuz ini dibuka, termasuk akses terhadap minyak. Ini pas malamnya pemirsa, jadi berubah dari pagi sampai malam.
Buka Selat Hormuz, ambil minyaknya dan menghasilkan keuntungan besar seperti semburan minyak untuk dunia. Ini dia menulisnya seperti itu. Kemudian malamnya posting lagi, menganggap konflik ini menjadi bisnis.
Tadi ini adalah shift atau perubahan yang paling membingungkan, sehingga dari pagi sampai malam ini menulis sesuatu yang berbeda. Kita bergeser, 4 April pemirsa. Trump kembali memberikan batas waktu 48 jam kepada Iran dengan peringatan bahwa konsekuensi besar akan terjadi kalau tuntutannya tidak dipenuhi.
Cara dia merespon, balikkan kecaman keras dan kemudian memberikan deadline tekanan. Nadanya seperti itu. Puncaknya terjadi ketika pada 5 April, Trump mengeluarkan pernyataan bernada paling keras.
Ia menyebutkan kemungkinan serangan terhadap infrastruktur Iran dan menggunakan bahasa yang lebih kasar serta emosional dibandingkan pernyataan sebelumnya. Rangkaian pernyataan ini memperlihatkan perubahan pendekatan yang cepat dari tekanan militer, pembukaan ruang diplomasi, hingga kembali pada ancaman terbuka. Di sini, Trump memperlihatkan sisi dirinya yang emosional, kasar, dramatis, teaterikal.
Bahkan untuk standar seorang Trump sendiri. Kegusaran Trump di media sosial yang dipertontonkan di dunia ditanggapi Iran dengan menyebut bahwa Trump ini sebagai sosok yang tidak stabil. Kita simak pernyatanya.
Dalam 2 minggu, Trump ini tidak bergerak dari A ke B, dia bergerak dari A ke Z, lalu balik lagi ke C, lalu lompat lagi ke X. Jadi kita diperlihatkan ini bukan strategi linear, tapi pola komunikasi impulsif plus tekanan ekstrim. Apakah sebenarnya sefrustasi itu Trump? Faktanya, hampir 1,5 bulan Amerika belum juga bisa menaklukkan Iran, malah mendapatkan perlawanan sengit dari Iran, dan dibebani oleh Israel, dicuekin oleh sekutunya, dan protes dari warga Amerika sendiri, karena sekarang harga BBM di Amerika jadi naik.