Athiyya Nurul Firjatillah • 20 March 2026 10:46
Jakarta: Isu ketahanan pangan global menjadi tema utama dalam khutbah Salat Idulfitri 1447 Hijriah di halaman Gedung Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 20 Maret 2026.
Sejumlah tokoh seperti Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji dan Pengurus Pusat Muhammadiyah Muhadjir Effendy, eks Wamen PPMI Dzulfikar Ahmad Tawalla, serta Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin terlihat hadir di lokasi.
Khatib Salat Idulfitri Masjid At-tanwir, Izza Rohman menekankan pentingnya kesyukuran atas nikmat, khususnya pangan, di tengah ancaman krisis global yang masih membayangi. Jamaah dengan khusyuk mendengarkan ceramah usai melaksanakan salat yang dipimpin imam Ahmad Maulana Yusuf.
“Idulfitri seyogianya ditandai rasa syukur, termasuk atas nikmat yang sudah terasa biasa bagi banyak orang, yakni nikmat makan. Di idulfitri kita banyak menyuguhkan makanan, berbagi makanan, dan juga disuguhi makanan. Janganlah memandang kecil nikmat ini. Gagal mensyukuri nikmat adalah awal dari kehilangannya,” kata Khotib Izza Rohman, saat menyampaikan ceramah Idulfitri, Jumat, 20 Maret 2026.
Ia juga menyampaikan data lembaga internasional yang menunjukkan tingginya angka pemborosan makanan di dunia.
Data Program Lingkungan PBB dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB menyebut lebih dari 30 persen makanan di dunia tidak termakan. Bahkan, sekitar 1 miliar ton makanan terbuang setiap tahun, sementara ratusan juta orang masih mengalami kelaparan.
“Dua hari lalu Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengeluarkan peringatan tentang krisis pangan dunia, berkurangnya suplai makanan dan merebaknya kelaparan global, apalagi bila perang di Timur Tengah terus berlanjut. Sekali lagi, penting untuk bertanya dan memberi edukasi tentang bagaimana kita bersyukur atas nikmat pangan yang terulur,” tambahnya.
Lebih lanjut, Izza menjelaskan bahwa bersyukur atas nikmat pangan tidak cukup dengan ucapan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan, termasuk tidak menyia-nyiakan makanan. Ia juga mengingatkan agar nikmat tersebut digunakan untuk kebaikan dan mendukung ibadah.
“Maka ‘Idul-fithr adalah momen untuk mengoptimalkan kesyukuran atas nikmat yang Allah berikan, setelah sebelumnya Ramadan menjadi momen untuk mengoptimalkan kesabaran atas ujian ketaatan. Mensyukuri berarti menggunakan nikmat untuk ketaatan, bukan untuk kemaksiatan. Bersyukur atas nikmat pangan berarti memanfaatkannya untuk amal saleh,” tegasnya.
Pelaksanaan Salat Idulfitri di PP Muhammadiyah tahun ini memaknai hari raya sebagai momentum memperkuat kesyukuran atas nikmat yang diterima, sekaligus pengingat untuk lebih bijak dalam mengelola pangan di tengah tantangan global.
Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan Keputusan Musyawarah Nasional XXXII Tarjih Muhammadiyah tentang Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).