AS-Iran Sepakat Damai, Netanyahu Meradang

16 June 2026 21:33

Upaya Amerika Serikat (AS) dan Iran meredakan ketegangan di Timur Tengah akhirnya membuahkan kesepakatan damai. Namun, kerangka diplomasi yang mencakup penghentian operasi militer di Lebanon ini justru menjadi pukulan telak dan memicu kemarahan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Rencananya, kesepakatan bersejarah ini akan ditandatangani di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026 mendatang. Poin krusial di dalamnya mencakup pembukaan Selat Hormuz, penghentian blokade pelabuhan Iran oleh AS, serta penghentian operasi militer di seluruh front.

Dikutip dari tayangan Metro Hari Ini, Metro TV, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa Teheran menjadikan stabilitas Lebanon sebagai syarat mutlak. Ia juga menekankan bahwa AS memiliki kewajiban dan tanggung jawab penuh untuk memastikan sekutunya (Israel) tidak melanggar perjanjian tersebut.

Netanyahu Merasa Ditinggalkan

Di sisi lain, Netanyahu secara terbuka menyuarakan kekecewaannya karena Israel tidak dilibatkan dalam negosiasi tersebut. Ia bersikeras pasukannya akan tetap berada di Lebanon dan operasi militer akan terus berlanjut.

Lebih lanjut, Netanyahu berikrar akan terus menggempur kelompok proksi Iran di Gaza, Suriah, Yaman, dan Tepi Barat, serta bertekad menggagalkan program nuklir Teheran.

"Dengan atau tanpa perjanjian, Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Perjuangan ini belum selesai. Kita harus terus kuat, tegas, dan mempertahankan diri selama diperlukan," tegas Netanyahu.

(Sofia Zakiah)