AS dan Iran Berdamai, Ini Poin-Poin yang Disepakati

16 June 2026 13:25

Ketegangan global menunjukkan tanda-tanda mereda setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, resmi mengumumkan tercapainya kesepakatan damai dengan Iran pada 15 Juni 2026. Perjanjian bersejarah ini menandai berakhirnya operasi militer di berbagai lini dan pembukaan kembali jalur perdagangan global.

Dalam pengumuman melalui media sosial pribadinya, Presiden Trump menyatakan bahwa salah satu poin krusial dalam kesepakatan ini adalah pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh tanpa pungutan biaya tol. Langkah ini diharapkan menjadi angin segar bagi stabilitas pasokan energi dunia dan jalur perdagangan global.

Sebagai imbal balik, Amerika Serikat berkomitmen untuk segera mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Selain itu, Washington juga akan membuka jalan bagi pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini melumpuhkan Teheran. 

Sementara terkait penanganan material nuklir yang ada saat ini, Trump menegaskan pihaknya tidak akan terburu-buru mengeluarkan material tersebut dari wilayah Iran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa proses perdamaian ini dirancang dalam dua tahap untuk memastikan stabilitas jangka panjang.

  • Tahap Pertama: Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) sebagai landasan penghentian permusuhan dan operasi militer secara permanen.
  • Tahap Kedua: Negosiasi selama 60 hari untuk mencapai perjanjian yang lebih komprehensif, mencakup program nuklir dan pembebasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
Araghchi menjelaskan bahwa isu sensitif seperti pengayaan uranium tingkat 60% sengaja ditunda hingga fase akhir karena sulit diselesaikan di tengah situasi konflik yang memanas. Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan meninggalkan sekutunya, Hizbullah, dan menuntut agar penghentian perang juga berlaku di Lebanon.
 
Baca juga: Damai AS-Iran Dinilai jadi Angin Segar bagi Kestabilan Global

Upacara penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni 2026 di Swiss. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, dalam wawancara televisi Iran menyatakan bahwa rincian kesepakatan belum tersedia secara langsung. 

Kazem Gharibabadi mengisyaratkan bahwa implementasi kesepakatan yang sedang dirancang ini tidak akan dimulai hingga proses penandatanganan selesai. Dan Teheran akan tetap memantau pelaksanaan komitmen Amerika Serikat berdasarkan nota kesepahaman ini.

"Begitu pula pada fase kedua, di mana negosiasi akan diperlukan demi mencapai kesepakatan final. Jika kesepatan final tersebut tercapai, tentu saja isu yang paling penting bagi kami adalah pelaksanaan dari ketentuan-ketentuannya," jelas Kazem Gharibabadi yang dikutip Selamat Pagi Indonesia pada Selasa, 16 Juni 2026.

Kabar baik ini turut ditegaskan oleh Perdana Menteri Pakistan, Syehbaz Sharif, melalui media sosial X. Sharif menyebut bahwa kedua belah pihak telah sepakat untuk menghentikan seluruh operasi militer secara mendalam dan permanen di semua lini, termasuk meredakan konflik yang tengah terjadi di Lebanon.

Sementara itu sejumlah kepala negara seperti Perdana Menteri Inggris Kir Starmer, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot, dan Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara, kompak menilai kesepakatan ini sangat penting bagi semua pihak untuk mengamankan kawasan, memulihkan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz serta menjaga stabilitas pasokan ekonomi global.

Meski demikian, Teheran memperingatkan adanya potensi gangguan dari pihak luar. Araghchi menuding Israel sebagai pihak yang paling menentang perjanjian ini dan kemungkinan akan mencari alasan untuk menggagalkan proses negosiasi.

Saat ini, dunia menanti realisasi kesepakatan bersejarah ini. Langkah nyata dari kedua negara sangat dinantikan. Stabilitas global kini berada di ambang babak baru.

(Anggie Meidyana)