Bendera Amerika Serikat dan Iran. (EPA-EFE)
Damai AS-Iran Dinilai jadi Angin Segar bagi Kestabilan Global
Fachri Audhia Hafiez • 16 June 2026 13:14
Jakarta: Tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran disambut baik. Langkah penghentian operasi militer secara permanen, termasuk di wilayah Lebanon, dinilai menjadi angin segar bagi kestabilan global.
“Kesepakatan ini menjadi titik awal rekonstruksi kawasan yang lebih stabil, adil, dan damai. Bukan hanya gencatan senjata di atas kertas,” ujar Ketua Fraksi Golkar DPR, M. Sarmuji, dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 16 Juni 2026.
Sarmuji menekankan bahwa rekonsiliasi ini merupakan kemenangan nyata bagi tatanan multilateral serta peran aktif diplomasi negara-negara berkembang seperti Pakistan, Turki, Qatar, dan Arab Saudi. Baginya, keberhasilan perundingan yang panjang ini menjadi bukti sahih bahwa jalur meja perundingan jauh lebih bermartabat ketimbang memelihara perang.
“Ini membuktikan bahwa jalur diplomasi, sekalipun sulit dan berliku, selalu lebih bermartabat daripada perang,” tegas Sarmuji.
Di sisi lain, Sarmuji mengingatkan bahwa perdamaian tertulis ini harus segera dilanjutkan ke dalam langkah konkret pemulihan ekonomi. Pasalnya, eskalasi konflik yang sempat memicu penutupan Selat Hormuz telah memukul rantai pasok global dan melambungkan harga minyak dunia.
“Kami berharap kesepakatan damai ini segera berdampak pada penurunan harga minyak dunia yang selama ini terdampak oleh eskalasi konflik dan penutupan Selat Hormuz,” kata Sarmuji.

Ketua Fraksi Golkar DPR, M. Sarmuji. Foto: Dok. Istimewa.
Sekjen Partai Golkar itu juga merinci tiga langkah taktis lainnya yang harus diambil Indonesia dari perdamaian ini. Pertama, memanfaatkan penurunan premi risiko geopolitik untuk menekan biaya produksi domestik dan inflasi.
Kedua, memaksimalkan pembukaan penuh Selat Hormuz guna memangkas biaya logistik internasional. Ketiga, menggenjot kembali ekspor nonmigas ke Timur Tengah, termasuk memulihkan kesepakatan dagang sektor pertanian dan manufaktur dengan Iran yang sempat tertunda.
Meski situasi di Timur Tengah mulai mendingin, Sarmuji mewanti-wanti pemerintah agar tidak melupakan pelajaran berharga dari krisis Selat Hormuz. Karena berdampak pada ketahanan energi nasional.
“Kita harus mendiversifikasi sumber energi dan tidak boleh terlalu bergantung pada satu atau dua negara pemasok saja. Pemerintah perlu menjajaki alternatif sumber energi baru, dari berbagai kawasan dan berbagai mitra, agar kejadian seperti ini tidak terulang dan tidak membuat kita tak berdaya,” ucap Sarmuji.