Pengamat: Serangan Udara Houthi Murni Perlawanan Atas Blokade Sepihak Arab Saudi

14 October 2026 00:56

Intensitas serangan udara yang dilancarkan oleh gerakan perlawanan Ansarullah Yaman (Houthi) terhadap sejumlah bandara di Arab Saudi dinilai murni sebagai bentuk pertahanan diri. Eskalasi militer ini merupakan buah dari agresi berkelanjutan dan blokade sepihak yang dilakukan Arab Saudi sejak 2015 silam.

"Yang jelas ya, apa yang dilakukan oleh Ansarullah Yaman ini adalah mereka mempertahankan hak-haknya sebagai bangsa yang berdaulat. Karena apa yang dilakukan Arab Saudi ini bukan hal baru, karena perang yang dimulai oleh Arab Saudi itu dilancarkan sejak 26 Maret 2015," jelas analis Timur Tengah, Faisal Assegaf, dalam dialog Metro Hari Ini, Metro TV, dikutip Kamis 14 Oktober 2026.

Ia menyoroti bahwa agresi militer yang dipimpin Arab Saudi sedari awal telah menabrak hukum internasional. "Itu adalah bentuk intervensi Arab Saudi terhadap urusan domestik Yaman, itu adalah sebuah pelanggaran terhadap Piagam PBB. Jadi yang dilakukan Ansarullah Yaman ini adalah sebuah pembelaan. Ketika mereka diserang, ya mereka harus membalas," tegasnya.
 



Terkait serangan yang menargetkan lima bandara di Arab Saudi baru-baru ini, Faisal menjelaskan bahwa langkah tersebut adalah balasan langsung atas dihancurkannya fasilitas sipil Yaman yang melanggar kesepakatan damai. Houthi kemudian merespons blokade dari pihak Saudi dengan strategi serupa.

Faisal juga dengan tegas membantah isu yang menyebutkan bahwa Yaman akan menyerang dua kota suci umat Islam.

"Jadi propaganda palsu yang dilancarkan Saudi bahwa Ansarullah ingin menyerang Makkah dan Madinah itu adalah sebuah kebohongan publik dan tidak pernah terbukti. Saya kira semua umat Islam ya harus sadar dan yakin bahwa itu tidak akan pernah dilakukan oleh Ansarullah, karena ya dari 2015 mereka tidak pernah melakukan itu," tegas Faisal. 

Di luar masalah diplomasi, rentetan serangan rudal dan drone Yaman dinilai telah menelanjangi kelemahan sistem pertahanan udara Arab Saudi di mata dunia.

"Dengan berhasil dalam seminggu kemarin ada empat kali serangan terhadap bandar udara di ibu kota Riyadh... ini menunjukkan ternyata Arab Saudi negara yang lemah. Sebuah negara besar yang didukung oleh militer Amerika Serikat ternyata bandar udara di ibu kotanya mampu ditembus oleh peluru kendali balistik maupun pesawat nirawak dari Ansarullah Yaman," ujarnya.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X