AS-Iran Beri Sinyal Kemajuan Perundingan Damai

25 May 2026 16:01

Jakarta: Perkembangan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan mulai menunjukkan kemajuan menuju kesepakatan damai untuk mengakhiri pertempuran. Sejumlah poin perselisihan diklaim akan dibahas dan diselesaikan pada tahap berikutnya.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, memberi sinyal bahwa peluang tercapainya perdamaian semakin terbuka. Namun, di sisi lain Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa opsi kesepakatan damai maupun tindakan militer terhadap Iran masih berada dalam posisi yang sama kuatnya dan belum ada keputusan akhir. Pejabat AS juga menyatakan bahwa rencana kemungkinan operasi militer baru tetap disiapkan apabila gencatan senjata enam pekan tidak berhasil berkembang menjadi perdamaian permanen.

"Saya rasa mungkin ada kemungkinan dalam beberapa jam ke depan, dunia akan mendapatkan kabar baik, setidaknya terkait dengan wilayah Selat dan terkait dengan proses yang pada akhirnya dapat membawa kita ke posisi yang diinginkan oleh Presiden," tutur Marco, dikutip dari Zona Bisnis, Metro TV, Senin, 25 Mei 2026. 

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei mengatakan, draf kesepakatan masih dalam tahap peninjauan. Mediasi bersama Pakistan dan negara-negara Teluk disebut menunjukkan kemajuan positif dalam beberapa hari terakhir. Untuk itu, Iran meminta semua pihak menunggu hasil pembahasan dalam 3–4 hari ke depan.
 

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Ambruk hingga 5%, Brent Kini Dijual Cuma USD98/Barel

Harga minyak dunia turun usai muncul peluang damai AS–Iran

Harga minyak mentah dunia bergerak turun pada pembukaan perdagangan Senin, 25 Mei 2026, seiring terbukanya peluang kesepakatan damai antara AS dan Iran. Harga minyak mentah jenis Ice Brent meluncur 4,2 persen menjadi USD99,16 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga turun 4,36 persen menjadi USD92 per barel. 

Penurunan harga minyak tersebut merupakan respons pasar terhadap meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Meski demikian, operasi militer di jalur pasokan utama Selat Hormuz masih terus berlangsung. Presiden Donald Trump menegaskan bahwa blokade militer di Selat Hormuz akan tetap diberlakukan hingga seluruh poin perjanjian resmi benar-benar disepakati dan diselesaikan.

(Alfiah Ziha Rahmatul Laili)

(Nopita Dewi)