Metro Community: Festival Sayyang Pattuddu, Tradisi Kuda Menari Khas Suku Mandar di Sulawesi Barat

10 October 2026 10:00

Warga Desa Galungtuluk, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, kembali menggelar perayaan tahunan Festival Sayyang Pattuddu, atau tradisi kuda menari. Tradisi khas Suku Mandar ini diselenggarakan dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus ajang melestarikan warisan budaya yang dijaga secara turun-temurun.

Dalam festival tersebut, puluhan ekor kuda berhias pernak-pernik warna-warni diarak mengelilingi jalanan kampung. Kuda-kuda ini telah dilatih secara khusus untuk menggerakkan kaki dan tubuhnya seolah menari mengikuti irama tabuhan rebana. Penunggang kuda, yang dikenal dengan sebutan pesawe, tampil memikat dengan busana adat khas Mandar. Kemeriahan festival juga dilengkapi dengan kaliandaa, yakni lantunan syair atau pantun tradisional yang berisi nasihat, pujian, dan doa.

Apresiasi bagi Anak-Anak Khatam Al-Qur'an

Selain sebagai atraksi budaya, Sayyang Pattuddu, memiliki nilai sosial dan spiritual yang tinggi. Perayaan ini menjadi bentuk apresiasi dan kebanggaan keluarga terhadap anak-anak yang telah menyelesaikan bacaan Al-Qur'an.

"Puncak atau aktivitas utama di acara peringatan Maulid adalah Sayyang Pattuddu, yaitu arak-arakan keliling kampung membawa anak-anak yang baru khatam Al-Qur'an," terang Pemerhati Budaya Mandar, Muh. Ridwan Alimuddin dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Anak-anak yang baru saja khatam Al-Qur'an berada di barisan belakang rombongan, sementara barisan depan diisi oleh para penunggang yang mengenakan pakaian adat Mandar.
 


Makna Sejarah dan Keunikan Lokal

Secara harfiah, nama tradisi ini memiliki latar belakang sejarah yang berkaitan erat dengan kehidupan bangsawan di masa lalu.

"Sayang Patuddu itu kalau diterjemahkan secara harfiah berarti kendaraan para penari. Nah, dulu yang menari itu adalah para gadis bangsawan," jelas Muh. Ridwan Alimuddin.

Dahulu, tradisi ini hanya digelar di lingkungan kerajaan dan kalangan bangsawan. Namun seiring perkembangan zaman, Sayang Patuddu telah menjadi tradisi rakyat yang hadir dalam berbagai momen penting, mulai dari peringatan Maulid Nabi, khatam Al-Qur'an, pernikahan, hingga penyambutan tamu kehormatan.

Keberadaan tradisi ini dinilai sangat istimewa karena menjadi identitas khas yang tidak ditemukan di daerah lain.

"Ini tradisi yang patut dilestarikan di Mandar karena seperti ini cuma ada di Sulawesi Barat, di Mandar," tegas Muh. Ridwan Alimuddin.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X