Tragedi Kecelakaan Kapal Terus Berulang, Bagaimana Keselamatan Pelayaran Indonesia?

16 September 2026 08:13

Jakarta: Kecelakaan kapal kembali terjadi dan kembali pula menyisakan pertanyaan tentang bagaimana sebenarnya keselamatan pelayaran di Indonesia. Dari tahun ke tahun, kecelakaan kapal dengan beragam penyebab masih terjadi, mulai dari gangguan teknis, cuaca buruk, sampai dengan faktor yang disebut sebagai human error. 


Rentetan kecelakaan kapal dari tahun ke tahun


Kecelakaan kapal bukanlah persoalan yang baru terjadi. Ini terbukti dari sepanjang tahun, dalam 5 tahun terakhir jumlah kasus fluktuatif, namun kecelakaan dengan korban jiwa masih terus terjadi. Dari 2020 ada 12 kasus kemudian naik di 2021 menjadi 19 kasus, 2022 turun menjadi 14 kasus, 2023 7 kasus, 2024 6 kasus, 2025 tercetak 8 kasus.

Jumlah korban meninggal dunia yang paling banyak itu terjadi pada 2021 ada 96 korban meninggal dunia dan 2022 ada 88 korban meninggal dunia. Sedangkan sisanya korban luka-luka dengan jumlah paling banyak 2020 ada 33 kasus. 

Kecelakaan kapal sepanjang 2026


Memasuki tahun 2026, dari Januari sampai dengan September ada beberapa kecelakaan kapal yang menyita perhatian publik. Yang pertama Januari ada KM Putri Sakinah di perairan Labuan Bajo. Maret 2026 KM Lintas Samudera di Selat Makassar yang dugaannya adalah karena kebocoran lamung kapal. Kemudian Mei 2026 speedboat penumpang di Kepulauan Seribu, dugaan penyebabnya adalah ledakan mesin. Ini adalah salah satu yang disebut sebagai human error. 

Selanjutnya pada Juli sampai dengan bulan Agustus 2026. Di bulan Juli kecelakaan yang terjadi pada speedboat penumpang di Teluk Tomini karena cuaca ekstrem. Kemudian KM Nurul Salsa yang menyita perhatian publik karena jumlah korbannya banyak. Empat dinyatakan meninggal dunia dan sampai operasi SAR ditutup ada 14 lainnya yang belum ditemukan. 

Kemudian pada Agustus, KMP Mutiara Sentosa II mengalami kecelakaan di Laut Jawa dan dugaan penyebabnya adalah terjadi kebakaran di dek kapal. 

Di bulan yang sama, Agustus kecelakaan menimpa KMP Putri Yasmin di lintasan Padangbai. Salah satu dugaan penyebabnya adalah karena muncul asap pertama yang berasal dari kendaraan di kar dek yang ada di atas kapal.

Kemudian KMP Prince Soya di lokasi yang berbeda di Pelabuhan Samarinda. Dan yang baru saja terjadi September 2026 ini ada KMP Virgo Transport 8. Ada lebih dari 100 orang yang masih dicari oleh tim SAR. Lokasinya ada di perairan Masalembu, Laut Jawa. 

Kecelakaan terjadi akibat banyak sekali faktor-faktornya, mulai dari human error, cuaca, masalah teknis kapal, dan lain sebagainya. 

601 operasi SAR kecelakaan kapal


Selanjutnya dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI bersama Kepala Basarnas Marskal Madya M Syafii mengungkapkan, sepanjang Januari sampai dengan Agustus 2026 ada 601 operasi SAR yang sudah dilaksanakan. Dan kasus yang ditangani tidak hanya soal kapal tenggelam saja. 

Yang pertama yang paling banyak adalah kasus man over board atau awak dan penumpang yang jatuh ke laut, dengan jumlah 178 kasus. Dan ini yang menjadikan operasi SAR paling banyak dalam kurun waktu satu tahun.

Kemudian ada kasus kapal mati mesin, kemudian kapal hilang kontak sebanyak 92 kasus. Kapal tenggelam, kapal terbalik, medevac atau evakuasi medis dengan jumlah 52 kasus. Kapal terbakar 15 kasus, kapal kandas, kapal tubrukan atau kapal tabrakan. Kapal bocor, kapal hanyut, kerusakan konstruksi, sampai kapal miring.

7 rekomendasi Basarnas


Basarnas memberikan tujuh rekomendasi yang menitikberatkan pada pencegahan dan kesiapan pada saat menghadapi kondisi darurat. Yang pertama harus memastikan kapal laik operasi. Termasuk kondisi badan kapal, mesin serta sistem navigasi dan komunikasi.

Ini tentu perlu ada pengecekan secara berkala. Sama seperti pengecekan KIR harus dilakukan secara berkala dan diperiksa secara benar. Kedua harus memastikan seluruh peralatan keselamatan seperti lifejacket, sekoci, life raf semuanya tersedia dan siap untuk digunakan pada saat kapal ini sedang berlayar.

Yang ketiga adalah memperkuat akurasi manifes penumpang secara digital dan juga real time. Keempat harus memastikan penumpang mendapatkan safety briefing.

Ini penting yang harus dilakukan penumpang pada saat terjadi kondisi dan situasi darurat di atas kapal penumpang pun harus punya pengetahuan yang sama dan setara. Kemudian yang kelima adalah harus melakukan drill kedaruratan secara terpadu. Ada latihan yang dilakukan jika seandainya kondisi darurat itu ditemukan oleh ABK yang ada di atas kapal tersebut dan juga SAR yang menanganinya nanti.

Yang keenam adalah memperkuat komunikasi dan koordinasi antarunsur pada saat terjadi kedaruratan. Dan yang ketujuh menerapkan serta mengawasi seluruh aturan keselamatan pelayaran secara konsisten dan berkelanjutan. 

Pada akhirnya investigasi kecelakaan bukan hanya untuk mengetahui apa yang terjadi, tapi untuk memastikan kecelakaan serupa mudah-mudahan tidak kembali terjadi.

Sumber: Redaksi Metro TV

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X