Nairobi: Sejumlah aktivis Kenya yang memprotes pembangunan fasilitas karantina bagi warga negara Amerika Serikat (AS) yang terjangkit virus Ebola ditangkap. Mereka ditangkap saat berupaya memasuki kantor Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Kenya sambil membawa peti mati tiruan untuk Presiden William Ruto.
Awalnya para aktivis tersebut menggelar unjuk rasa di depan kantor Kemenkes Kenya, di Nairobi, Selasa, 2 Juni 2026, waktu setempat. Dalam aksi tersebut mereka membawa peti mati bertuliskan Ebola, sambil meneriakkan kata-kata anti pembangunan fasilitas karantina Ebola oleh pemerintah AS.
Dikutip dari program
Headline News Metro TV, Rabu, 3 Juni 2026, para kritikus menyatakan pusat karantina bagi warga AS yang terpapar virus tersebut membahayakan warga Kenya.
Para aktivis itu akhirnya ditangkap. Namun, mereka berjanji akan menentang setiap langkah yang diambil Ruto untuk mendirikan pusat karantina tersebut, termasuk di wilayah pangkalan udara Laikipia.
Perhimpunan Pengacara Kenya dan Institut Katiba telah menentang rencana tersebut di pengadilan, dengan alasan bahwa pemerintah bertindak tanpa partisipasi publik yang tepat, tanpa transparansi atau perlindungan yang memadai. Pengadilan Tinggi Kenya telah memperpanjang pemblokiran fasilitas tersebut selama tiga minggu.
Pengakuan Ruto
Sebelumnya, William Ruto mengonfirmasi bahwa dirinya telah menyetujui pembangunan fasilitas karantina Ebola milik AS, di Pangkalan Udara Laikipia, setelah mendapat permintaan langsung dari Presiden AS
Donald Trump.
Pernyataan itu disampaikan Ruto saat menghadiri diskusi media di Wajir usai perayaan Hari Madaraka, di tengah meningkatnya penolakan publik terhadap proyek tersebut.
“Ketika Presiden Trump meminta pemerintah Kenya untuk mendukung mereka dengan mendirikan pusat karantina di Pangkalan Udara Laikipia, saya memberikan persetujuan karena itu adalah bentuk kemitraan dengan sahabat yang telah berjalan bersama Kenya selama 30 hingga 40 tahun,” kata Ruto, dikutip Anadolu, Selasa, 2 Juni 2026.
Ruto menegaskan keputusan tersebut didasarkan pada hubungan panjang Kenya dan Amerika Serikat dalam bidang kesehatan masyarakat, penelitian medis, serta penanganan penyakit menular seperti HIV/AIDS dan Ebola.
Ia menyebut pemerintah AS selama ini telah menggelontorkan sumber daya besar untuk mendukung sistem kesehatan Kenya, termasuk melalui kerja sama dengan Institut Penelitian Medis Kenya (KEMRI).
Menurut Ruto, fasilitas di Laikipia tidak berbeda dengan fasilitas kesehatan lain yang ada di Kenya.
Namun, proyek tersebut memicu kontroversi luas di dalam negeri setelah muncul laporan bahwa fasilitas itu akan digunakan untuk mengarantina dan memantau warga negara AS yang diduga terpapar Ebola selama wabah berlangsung di Republik Demokratik Kongo.