Metro Comunity - Seniman Jabar Dorong Karinding Masuk Warisan Budaya Dunia

6 June 2026 18:07

Kawasan Lingkung Gunung Pancawati, Kabupaten Bogor, menjadi saksi bisu berkumpulnya para pegiat budaya dan seniman dari berbagai penjuru Jawa Barat. Dalam agenda bertajuk 'Ruang Riung Reang Karinding Volume 2', mereka memperkuat kolaborasi untuk menjaga eksistensi Karinding, alat musik tradisional Sunda yang sarat akan nilai filosofis.

Kegiatan yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Bogor ke-544 ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan, melainkan wadah silaturahmi sekaligus edukasi bagi generasi muda. Momentum ini dimanfaatkan para pegiat budaya untuk menegaskan pentingnya menjaga warisan leluhur sebagai bagian dari identitas daerah.

Mengenal Karinding: Dari Pengusir Hama hingga Identitas Bangsa

Karinding merupakan alat musik tradisional jenis harpa rahang yang terbuat dari bambu atau pelepah aren. Cara memainkannya cukup unik, yakni ditempelkan ke bibir lalu disentil untuk menghasilkan getaran suara yang diperkuat oleh rongga mulut pemainnya.

Secara historis, Karinding memiliki fungsi yang sangat luas dalam masyarakat Sunda. Dahulu, alat ini digunakan sebagai sarana hiburan, media komunikasi, hingga alat praktis untuk mengusir hama di lahan pertanian. Kini, Karinding dipandang sebagai bagian penting dari identitas daerah yang harus dijaga dari gempuran budaya populer.
 
Baca juga: 4 Destinasi Wisata Menarik di Banten yang Wajib Masuk Daftar Liburan-Gaya Hidup

Inovasi "Kekinian" untuk Menarik Minat Generasi Muda

Salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian budaya adalah menarik minat generasi muda. Pelestari Seni Tradisi Karinding, Mang Bojay mengungkapkan bahwa pendekatan 'buhun' atau kuno mulai dikombinasikan dengan gaya yang lebih modern atau 'kekinian' untuk menarik atensi anak muda.

"Anak-anak sekarang sudah tidak main rasa (seperti cara kuno). Maka muncul gagasan mengembangkan Karinding menjadi kekinian. Kalau mereka sudah suka suaranya, barulah kita ceritakan filosofinya," ujar Mang Bojay yang dikutip Selamat Pagi Indonesia pada Sabtu 6 Juni 2026. 

Mang Bojay berharap alat musik Karinding dapat masuk ke dalam kurikulum sekolah sebagai Muatan Lokal (Mulok) agar pengenalan sejak dini dapat berjalan masif.

Target Bawa Karinding Menuju Warisan Budaya Dunia UNESCO

Tidak hanya di tingkat lokal, para pegiat seni memiliki ambisi besar untuk membawa Karinding ke kancah internasional. Saat ini, muncul dorongan kuat agar pemerintah dan seluruh elemen masyarakat bersinergi mengusulkan Karinding kepada UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda milik Indonesia.

Upaya tersebut diharapkan dapat menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan tradisi Karinding agar dapat dikenal dan dipraktikan oleh generasi mendatang.

"Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Saya khawatir budaya asli Sunda seperti Karinding ini diambil oleh orang lain," tegas pengelola lingkung gunung, Irfan Fauzi Arief.

Melalui semangat kolaborasi antara seniman senior dan muda, diharapkan Karinding tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi terus hidup dan berkembang sebagai warisan leluhur di tengah kehidupan masyarakat modern.

(Anggie Meidyana)