3 April 2026 00:36
Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah memasuki babak baru setelah Angkatan Darat Republik Islam Iran melaporkan keberhasilan serangkaian serangan yang menargetkan aset-aset militer strategis Amerika Serikat (AS). Dalam pengumuman nomor 51, Iran mengonfirmasi penggunaan drone Arash-2 untuk melumpuhkan infrastruktur pengintaian dan logistik udara Amerika.
Gelombang serangan terbaru ini melibatkan drone Arash-2 yang memiliki daya jangkau hingga 2.000 km. Drone tersebut dilaporkan berhasil menghantam lokasi penempatan pesawat AWACS (Airborne Warning and Control System) dan pesawat pengisian bahan bakar milik AS yang berada di Bandara Ben Gurion.
Selain di bandara tersebut, serangan balasan Iran juga menyasar lokasi radar Amerika Serikat di Uni Emirat Arab yang berfungsi untuk mendeteksi serta mencegat rudal dan drone tempur.
Sebelumnya, Iran juga mengklaim telah menghancurkan pesawat AWACS E-3 di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi. Meski media AS melaporkan hanya terjadi kerusakan ringan, pihak Iran melalui Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf mengunggah bukti yang menunjukkan pesawat tersebut hancur berkeping-keping.
Penghancuran pesawat E-3 AWACS dianggap sebagai pukulan telak bagi militer AS. Pesawat ini bukan sekadar alat angkut, melainkan 'mata terbang' dan pusat komando lintas udara yang dilengkapi kubah radar setinggi 30 kaki untuk membangun gambaran medan perang secara real time.
Dengan jangkauan radar lebih dari 250 mil E-3 digunakan untuk mendeteksi melacak dan mengarahkan operasi udara. Armadanya juga kecil dan mulai menua dengan laporan saat ini hanya menunjukkan sekitar 16 pesawat yang aktif. Pengganti terdekatnya E-7 Wedgetail, menelan biaya lebih dari USD700 juta per pesawat. Oleh karena itu insiden ini dipandang sebagai kehilangan tempur pertama untuk model pesawat ini.
Makna dari peristiwa ini jauh melampaui kerusakan pada badan pesawat. Ini berarti bahwa Iran untuk pertama kalinya mampu menyerang salah satu aset militer strategis Amerika Serikat dalam pertempuran.
| Baca juga: Tiongkok Sebut Operasi Militer AS-Israel Penyebab Utama Gangguan di Selat Hormuz |