Deretan kapal yang berada di Selat Hormuz. Foto: Anadolu
Tiongkok Sebut Operasi Militer AS-Israel Penyebab Utama Gangguan di Selat Hormuz
Fajar Nugraha • 2 April 2026 22:54
Beijing: Tiongkok pada Kamis, 2 April 2026 menyatakan bahwa penyebab utama gangguan di Selat Hormuz adalah operasi militer bersama yang disebutnya sebagai tindakan “ilegal” oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Beijing juga mendesak agar ketegangan diturunkan demi melindungi jalur pelayaran global.
“Akar penyebab gangguan di Selat Hormuz adalah operasi militer ilegal AS-Israel terhadap Iran,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning, seperti dikutip TRT World, Kamis, 2 April 2026.
“Dan negara-negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur itu. Mereka harus menjaganya. Mereka harus menguasainya dan menjaganya,” kata Trump.
Ia juga menyarankan negara-negara yang tidak dapat mengamankan pasokan bahan bakar untuk membeli minyak dari AS atau “mengumpulkan keberanian yang tertunda” dan “pergi ke Selat itu dan mengambilnya”.
Tiongkok, yang mengimpor sebagian besar energinya dari Timur Tengah, mengatakan tiga kapalnya baru-baru ini melewati Selat Hormuz yang kini secara efektif berada di bawah kendali Iran sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari, yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat. Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan.
Sedikitnya 13 personel militer Amerika Serikat dilaporkan tewas dalam konflik bersenjata yang masih berlangsung, sementara puluhan lainnya mengalami luka-lua.
Teheran tetap mempertahankan kendali efektif atas Selat Hormuz, jalur perairan strategis bagi pasokan energi ke negara-negara Asia, dan mengizinkan kapal dari negara yang disebut Iran sebagai “negara sahabat” untuk melintas.
Upaya Tiongkok cegah krisis energi
Sementara itu, badan perencana negara Tiongkok meminta kilang independen untuk tidak menurunkan tingkat produksi di bawah rata-rata dua tahun terakhir guna menjaga pasokan bahan bakar domestik, menurut beberapa sumber yang mengetahui masalah tersebut.Langkah itu diambil setelah kilang-kilang kecil sebelumnya diperkirakan akan mengurangi tingkat pengolahan minyak mentah pada April karena lonjakan tajam harga minyak.
Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional menyampaikan pesan tersebut dalam pertemuan dengan kilang independen pekan ini, kata sumber tersebut. Lembaga itu belum segera menanggapi permintaan komentar.
Sumber juga menyebutkan bahwa kegagalan mematuhi arahan tersebut dapat berujung pada pengurangan kuota impor minyak mentah.
Tiongkok mengatur impor minyak oleh kilang independen—yang dikenal sebagai “teapots”—melalui sistem kuota. Kilang-kilang tersebut beroperasi sekitar 55 persen dari kapasitas pada Februari dan Maret, menurut Energy Aspects.
Untuk mengantisipasi potensi kekurangan bahan bakar di tengah perang di Timur Tengah, Tiongkok bulan lalu menghentikan ekspor bahan bakar olahan, dan pembatasan tersebut berlanjut hingga April.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com