Jakarta: Dunia tengah di titik nadir krisis energi sebagai dampak akibat konflik yang juga belum usai antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran.
Serangan bahkan terus meluas. Kali ini menyasar sejumlah infrastruktur utama minyak mentah. Ketegangan di Selat Hormuz turut menjadi ancaman nyata akan adanya krisis energi yang mengintai.
Gangguan produksi minyak mentah di Irak
Produksi minyak mentah Irak terganggu kena jalur ekspor minyak Utama di Basra menjadi target serangan rudal. Seperti diketahui, Irak merupakan produsen minyak mentah terbesar kedua di OPEC. Irak akhirnya memangkas produksi hingga 1,5 juta barel imbas terganggunya penyimpanan dan jalur ekpor minyak.
Selat Hormuz penuh ketegangan
Selat Hormuz sebenarnya diatur oleh Konvensi PBB tentang hukum laut atau UNCLOS. Tetapi yang mengatur lintas transit tanpa hambatan di wilayah tersebut. Namun pada kenyataannya status tersebut menjadi abu-abu karena AS dan Iran belum sepenuhnya meratifikasi UNCLOS.
Secara de jure atau di atas kertas pejabat Garda Revolusi Iran (IRGC) telah membantah informasi bahwa Iran menutup Selat Hormuz. Tapi Iran juga telah memberikan peringatan keras jika kapal AS dan Israel melewati Hormuz akan dianggap menjadi target militer mereka.
Kenaikan Harga komoditas migas
Sepanjang pekan kemarin, ketegangan di antara negara-negeri penghasil minyak sebagai imbas perang sudah tergambar pada pergerakan harga minyak dunia. Pada Jumat, 6 Maret 2026, Harga minyak jenis Brent melonjak 9?n menyentuh USD93/barel. Sementara Harga minyak mentah WTI melonjak tajam hingga 12,21% di Harga USD90.90/barel.
Sejumlah analisis memprediksi bahwa Harga minyak mentah dunia akan tembus di angka USD150/barel.
"Kami dengan Pertamina sudah switch dari middle east kita ambil (re:impor minyak mentah) di Amerika, kemudian dari Nigeria dan dari Brasil. Jadi tidak perlu panic buying," kata Menteri ESDM Bahil Lahadalia.
"Kita pernah melewati keadaan di mana Harga minyak sampai 150 dolar. Agak terlambar tapi (ekonomi) tidak jatuh. Jadi kita punya pengalaman. Kita sekarang kalua memang anggarannya tidak kuat sekali, tidak ada jalan lain kita share dengan masyarakat Sebagian, artinya ada kenaikan BBM," ujar Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.
Sumber: Redaksi Metro TV