7 April 2026 14:21
Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengancam akan menjadikan Iran 'neraka' jika tidak membuka Selat Hormuz menuai sorotan. Sikap yang dinilai inkonsisten ini memicu ketidakpastian global, terutama di sektor energi dan pasar keuangan.
Pengamat Hukum Bisnis dan Perdagangan Internasional dari Binus University, Muhammad Reza Zaki, menilai pernyataan Trump tidak bisa dibaca secara sederhana. Ia menyebut kebijakan Trump kerap berubah cepat dan dipengaruhi tekanan politik domestik di AS.
“Tidak bisa disimpulkan dalam waktu singkat, karena kebijakan Trump sering fluktuatif dan juga dipengaruhi kondisi dalam negeri,” ujarnya dalam Program Breaking News, Selasa 7 April 2026.
Menurut Reza, ancaman tersebut berpotensi memperburuk krisis energi global. Saat ini, harga minyak dunia telah melonjak hingga sekitar USD115 per barel, tertinggi sejak 2020 di kawasan Asia akibat ketegangan di Timur Tengah, dan terganggunya jalur distribusi energi.
Ia juga menyoroti dampak besar penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis sekitar 20 persen distribusi energi dunia. Bahkan, lebih dari 2.000 kapal dilaporkan tertahan di kawasan tersebut, memperparah ketidakpastian pasokan global.