Mengenal Sejarah Erupsi Gunung Sinabung dari Tahun ke Tahun

2 September 2026 10:50

Jakarta: Gunung Sinabung bukan sekali dua kali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Gunung api yang berada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, ini sempat lama dianggap tidak aktif sebelum kembali erupsi pada 2010 dan terus menunjukkan aktivitas vulkanik hingga 2020.

Gunung dengan ketinggian sekitar 2.460 meter di atas permukaan laut ini kembali menjadi perhatian setelah lama tidak menunjukkan aktivitas. Melansir portal resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), M. Hendrasto selaku Kepala Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan bahwa letusan Gunung Sinabung pada 2014 memiliki kemiripan dengan kondisi sekitar 1.200 tahun lalu.

Gunung ini diperkirakan pertama kali meletus sekitar tahun 800 M dan kembali menunjukkan aktivitas pada 2010 hingga terakhir erupsi pada 2020. Berikut sejarah singkat letusan Gunung Sinabung dari tahun ke tahun.
 

2010

Pada 27 Agustus 2010, Sinabung kembali meletus dan mengeluarkan abu vulkanik. Dua hari kemudian, pada 29 Agustus, gunung tersebut kembali mengalami erupsi yang disertai keluarnya lava. Aktivitas tersebut membuat status Gunung Sinabung dinaikkan hingga Level IV atau Awas. Lebih dari 12 ribu warga kemudian harus dievakuasi.

Erupsi kembali terjadi pada awal September 2010. Salah satu letusan pada 7 September bahkan menghasilkan kolom abu hingga sekitar 5.000 meter dari puncak. Aktivitas ini menjadi tanda bahwa Sinabung telah kembali menjadi gunung api yang aktif.

2013

Setelah mengalami jeda aktivitas selama sekitar tiga tahun, Sinabung kembali menunjukkan peningkatan aktivitas pada September 2013. Erupsi terjadi beberapa kali, disertai abu vulkanik dan awan panas.

Aktivitas kemudian kembali meningkat pada November. Pada 18 November 2013, misalnya, erupsi eksplosif menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 8.000 meter dari puncak. Sejumlah letusan besar kembali terjadi pada 19-24 November. Pada 19 November, kolom erupsi bahkan mencapai sekitar 10.000 meter.

Akibat meningkatnya aktivitas tersebut, status Sinabung dinaikkan menjadi Level IV atau Awas pada 24 November 2013.

Puluhan ribu warga dari berbagai desa di sekitar gunung kemudian harus mengungsi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 33.210 jiwa dari 21 desa dan dua dusun dievakuasi akibat aktivitas erupsi tersebut.

2014

Pada awal Januari 2014, gunung ini mengalami rentetan erupsi dan luncuran awan panas. Pada 4 Januari 2014, BNPB mencatat sekitar 30 kali erupsi hingga siang hari, sementara guguran awan panas mencapai sekitar 60 kali dengan jarak luncur 2 hingga 5 kilometer ke arah tenggara.

Pada awal Februari 2014, 14 orang meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka-luka akibat luncuran awan panas ketika berada di sekitar Desa Suka Meriah, Kecamatan Payung, yang termasuk zona bahaya.

Erupsi Sinabung Setelahnya

Pada 2016, Gunung Sinabung menyemburkan lava pijar sejauh 50 meter dengan tinggi kolom abu mencapai 2.000 meter. Aktivitas tersebut juga berlanjut pada 2017. Salah satu erupsi pada tahun itu menyebabkan terjadinya guguran kubah lava yang terbentuk di sekitar puncak gunung.

Memasuki 2018, Sinabung kembali menunjukkan aktivitas yang signifikan melalui letusan dengan tinggi kolom abu lebih dari 5.000 meter.

Pada Mei 2019, tinggi kolom abu letusan Sinabung teramati kurang lebih 2.000 meter di atas puncak atau 4.460 meter di atas permukaan laut. Selang empat hari kemudian, yaitu pada 11 Mei, gunung api ini kembali erupsi dengan amplitudo maksimum 9 mm selama kurang lebih 33 menit.

Setahun kemudian, Gunung Sinabung kembali menjadi perhatian setelah mengalami erupsi pada 10 Agustus 2020. Erupsi tersebut menghasilkan kolom abu yang mencapai sekitar 5.000 meter di atas puncak. Abu vulkanik kemudian menyebar ke sejumlah wilayah di sekitar gunung.
 

Nah, rangkaian aktivitas tersebut menunjukkan bahwa sejak kembali aktif pada 2010, Gunung Sinabung mengalami periode erupsi yang berlangsung dalam waktu panjang. Aktivitasnya tidak hanya terjadi dalam satu atau dua tahun, tetapi terus berulang dengan intensitas yang berbeda-beda. Sejarah panjang erupsi ini juga menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gunung api.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.

(Eunike Michelle Gultom)

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X