Kenali Cairan Surfaktan yang Digunakan untuk Padamkan Karhutla di Lahan Gambut

10 September 2026 07:43

Jakarta: Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah gambut, terus dikembangkan dengan berbagai metode. Salah satunya melalui penggunaan cairan pemadam berbasis surfaktan yang dikembangkan oleh Bidang Laboratorium Forensik Polda Kalimantan Selatan (Bidlabfor Polda Kalsel).

Melansir portal resmi Polri Kalimantan Selatan, pengembangan formula ini bermula dari cairan pemadam lahan gambut yang sebelumnya diperoleh Polda Kalsel melalui bantuan GAPKI dari Jepang. Kemudian, Kapolda meminta Bidlabfor Polda Kalsel untuk menguraikan kandungan cairan tersebut guna mengetahui bahan utama yang digunakan. Inovasi ini kemudian digunakan dalam penanganan karhutla di Kalimantan.

Polda Kalsel mengembangkan cairan tersebut dengan menyesuaikan formulanya terhadap kondisi lahan gambut di Kalimantan Selatan. Cairan berbahan dasar surfaktan tersebut juga dipadukan dengan sistem pipa undercooling untuk menjangkau bara yang berada di dalam tanah.

 

Bagaimana Cara Kerja Cairan Pemadam Karhutla?

Dalam penggunaannya, satu liter konsentrat dicampurkan dengan 100 liter air. Dari satu ton bahan baku utama, Polda Kalsel dapat menghasilkan sekitar 4.700 liter konsentrat yang dapat digunakan untuk sekitar 470.000 liter air. Dengan kata lain, penggunaan cairan ini dapat membantu menghemat kebutuhan air dalam pemadaman karhutla.

Cara kerja cairan ini adalah menghasilkan busa ketika disemprotkan. Kandungan surfaktan di dalamnya membantu memutus suplai oksigen sehingga bara api di dalam lahan gambut dapat lebih cepat kehilangan panas dan padam.

Selain itu, cairan tersebut dapat digunakan dengan sistem pipa undercooling untuk menjangkau bara yang berada di bawah permukaan tanah.

Diuji untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan Tengah

Efektivitas cairan tersebut juga diuji di Jalan Petuk Katimpun, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Polda Kalteng menggunakan sekitar 1.200 liter air yang telah dicampur cairan surfaktan untuk menangani lahan gambut yang terbakar.

Berdasarkan pemantauan menggunakan drone thermal, suhu lahan yang sebelumnya mencapai lebih dari 100 derajat Celsius turun menjadi sekitar 10 hingga 20 derajat Celsius setelah cairan disuntikkan ke dalam lahan gambut.

Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan mengatakan cairan tersebut dapat disuntikkan ke dalam lahan gambut dan bekerja dalam waktu singkat. Polda Kalteng juga berencana berkoordinasi dengan Polda Kalsel untuk mempelajari produksi cairan tersebut di Kalimantan Tengah.

Selain membantu mengatasi bara di bawah permukaan, penggunaan cairan ini dinilai dapat membuat pemadaman lebih efisien dalam penggunaan air. Polda Kalsel menyebut bahan surfaktan yang digunakan berbasis nabati dan ramah lingkungan serta diharapkan tidak merusak mikroorganisme maupun vegetasi di area yang ditangani.

 

Nah, penggunaan cairan pemadam berbasis surfaktan menjadi salah satu inovasi dalam menangani karhutla, khususnya pada lahan gambut yang memiliki bara di bawah permukaan. Dengan penggunaan cairan dan metode yang tepat, proses pemadaman diharapkan dapat dilakukan lebih efektif sekaligus menghemat kebutuhan air.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.

(Eunike Michelle Gultom)

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X