Jakarta: Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru. Iran dilaporkan mulai membuka akses terbatas Selat Hormuz bagi sejumlah negara. Kebijakan ini menjadi sinyal penting bagi pasar energi global, sekaligus menguji diplomasi negara-negara importir energi, termasuk Indonesia.
Mengapa? Karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Lebih dari 20 persen pasokan minyak global melintasi selat ini setiap harinya. Ini artinya setiap perubahan kebijakan di selat hormus akan langsung berdampak pada harga energi global.
Syarat melintas
Meski Selat Hormuz mulai dibuka secara terbatas, tapi Iran menetapkan sejumlah persyaratan ketat bagi kapal-kapal yang diperbolehkan melintas. Hal ini menunjukkan bahwa meski jalur dibuka, kontrol tetap berada di tangan Teheran.
Setidaknya ada tiga syarat melintas yang ditetapkan oleh Iran. Yang pertama adalah Iran menetapkan bahwa kapal yang diperbolehkan melintasi Selat Hormuz harus tidak terafiliasi dengan Amerika Serikat maupun Israel. Amerika Serikat dan juga Israel secara spesifik disebut oleh Iran sebagai pihak agresor.
Kedua negara tersebut maupun negara lain yang mendukung langkah Amerika Serikat dan Israel untuk menyerang Iran dipastikan tidak dapat melintasi Selat Hormuz.
Kemudian yang kedua, setiap kapal yang akan melintasi selat hormus ini wajib melakukan koordinasi dengan otoritas Iran sebelum melakukan transit.
Langkah ini memberikan Iran kendali langsung terhadap lalu lintas kapal di salah satu jalur perdagangan terpenting dunia.
Dan syarat yang ketiga, tanpa adanya izin resmi maka kapal ini akan berisiko ditolak atau diputar balik. Kemudian juga terdapat aturan keselamatan dan keamanan yang memang diberlakukan oleh Iran.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pembukaan akses bukan berarti situasi sudah normal, melainkan masih dalam kontrol yang ketat. Kebijakan ini dinilai sebagai strategi Iran untuk bisa mengontrol lalu lintas energi global sekaligus menjaga posisi tawar dalam konflik geopolitik yang masih berkembang. Yang menjadi pertanyaan adalah apa langkah yang bisa dilakukan oleh negara-negara terutama yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.
Negara yang kantongi izin melintas
Seiring dengan pembukaan terbatas Selat Hormuz, Iran mulai memberikan izin kepada sejumlah negara untuk bisa melintasi Selat Hormuz. Akses tersebut umumnya diperoleh melalui dua mekanisme.
Yang pertama adalah pendekatan diplomatik yang non-konfrontatif, serta negosiasi langsung untuk bisa menjamin keamanan transit kapal. Sejumlah negara yang hingga saat ini disebut telah mendapatkan izin. Antara lain yang pertama adalah Pakistan, kemudian India, Turki, China, terbaru adalah Thailand.
Pakistan menjadi salah satu negara dengan posisi yang strategis mengingat kedekatan geografis dan hubungan keamanan regional dengan Iran. Kerjasama lintas batas dan kepentingan energi menjadi faktor yang memperkuat akses Pakistan dalam konteks kebijakan ini.
Selanjutnya India, India ini memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas Selat Hormuz sebagai salah satu importer energi terbesar dunia. Jadi kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi kritis sebagai ketahanan energi dan stabilitas ekonomi India.
Yang ketiga adalah Turki. Turki merupakan negara penghubung antara Asia dan juga Eropa. Jadi Turki punya peran strategis dalam distribusi energi regional. Hubungan diplomatik yang relatif pragmatis dengan Iran menjadi dasar bagi akses transit yang diberikan.
Selanjutnya adalah China. China ini menjadi mitra energi jangka panjang Iran dengan kerjasama investasi dan perdagangan energi yang signifikan. Kalau dalam konteks ini akses bagi kapal terkait China mencerminkan kepentingan strategis kedua negara dalam menjaga stabilitas pasokan energi.
Sementara itu yang terakhir adalah Thailand. Thailand jadi contoh negara yang memperoleh akses melalui jalur diplomasi langsung. Yang terbaru ada sebuah tanker minyak milik perusahaan energi Thailand yang berhasil melintasi Selat Hormuz setelah pemerintah Thailand melakukan lobby diplomatik dengan Iran.
Perkembangan ini menegaskan bahwa peran negosiasi dalam mengelola risiko keamanan maritim menjadi sangat penting.
Hingga saat ini belum ada kejelasan apakah negara-negara lain termasuk Indonesia akan memperoleh akses serupa. Hal ini menjadi penting mengingat Indonesia merupakan negara importer energi yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan minyak global.
Peran Selat Hormuz bagi Indonesia
Meski memang Indonesia tidak mengimpor langsung sebagian besar minyak dari Timur Tengah tapi Selat Hormuz tetap memiliki peran yang krusial bagi ketahanan energi nasional. Data dari Indonesia Exim Bank Institute (yang menyatakan bahwa sekitar 75% impor minyak Republik Indonesia berasal dari Singapura dan juga Malaysia.
Tapi yang perlu menjadi catatan ternyata Singapura dan Malaysia juga impor minyak mentah dari Timur Tengah. Artinya apa? Gangguan pasokan di Selat Hormuz akan berdampak secara tidak langsung terhadap Indonesia. Apabila distribusi minyak dari Timur Tengah terganggu maka Singapura dan juga Malaysia akan mengalami keterbatasan pasokan.
Dampaknya harga BBM dan energi di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia berpotensi meningkat. (5:31) Menurut analisis dari International Energy Agency, ketegangan di Selat Hormuz secara historis selalu memicu kenaikan harga minyak global. Hal ini terjadi karena pasar energi global sangat sensitif terhadap risiko disrupsi pasokan.
Bagi Indonesia, kenaikan harga energi tidak hanya berdampak pada BBM namun juga inflasi, biaya logistik, dan juga stabilitas ekonomi nasional.
Ujian diplomasi Indonesia
Pembukaan terbatas Selat Hormuz turut menjadi ujian diplomasi bagi Indonesia. Di tengah ketegangan geopolitik dan ketidakpastian pasokan global, kemampuan Indonesia untuk bisa mengamankan distribusi energi ini menjadi semakin penting.
Kita tahu, di awal Maret 2026, pemerintah melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut bahwa cadangan BBM nasional ini berada di kisaran 20 hari. Pernyataan ini memicu kekhawatiran mengingat ketergantungan Indonesia terhadap impor energi yang masih cukup tinggi.
Meski memang dalam perkembangan terbaru, pemerintah menyatakan kalau stok BBM nasional masih dalam keadaan aman, tapi aman bukan berarti selamanya aman, kondisi ini masih dinilai rentan, terutama karena konflik dan ketegangan terhadap Iran yang masih terus berlangsung, serta belum ada kepastian kapan situasi akan kembali normal.
Jadi dalam kondisi ini, pembukaan Selat Hormuz dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi energi dengan Iran. Negosiasi secara langsung dinilai bisa membuka peluang bagi kapal Indonesia untuk mendapatkan akses melintasi jalur strategis tersebut.
Indef juga menyatakan kalau Indonesia perlu segera memanfaatkan ruang diplomasi yang terbuka. Negara-negara yang aktif menjalin komunikasi dengan Iran punya peluang yang lebih besar untuk menjaga kelancaran pasokan energi. Pengalaman Thailand yang tadi kita bahas tentu menjadi contoh di mana tanker minyak negara tersebut berhasil melintasi Selat Hormuz setelah melakukan negosiasi diplomatik langsung dengan Iran.
Hal ini menunjukkan kalau diplomasi energi menjadi instrument strategis dalam mengelola risiko global. Kalau dalam konteks ini, diplomasi energi tidak lagi menjadi opsi, tapi memang menjadi kebutuhan strategis untuk bisa menjaga stabilitas ekonomi dan juga ketahanan nasional.
Pernyataan dari Kepala Center of Food Energy and Sustainable Development Indaf, yaitu Abra Talatov. Abra menyatakan, kalau Indonesia mampu melakukan negosiasi langsung dengan Iran untuk memastikan kapal kita bisa melintasi Selat Hormuz, menurut saya ini bisa menjadi game changer bagi ketahanan energi nasional. Apa yang bisa kita ambil dari pernyataan ini? Pernyataan ini menegaskan kalau pembukaan terbatas Selat Hormuz memberikan peluang diplomatik yang dapat dimanfaatkan secara baik oleh Indonesia.
Ini juga sekaligus menunjukkan kalau ketahanan energi sangat dipengaruhi oleh dinamika hubungan internasional dan negosiasi antar negara. Pembukaan akses terbatas Selat Hormuz oleh Iran menjadi sinyal penting bagi pasar energi global. Bagi Indonesia, situasi ini menjadi momentum untuk bisa memperkuat diplomasi energi, diversifikasi pasokan dan juga meningkatkan ketahanan energi nasional.
Karena di tengah dinamika geopolitik global, ketahanan energi tidak hanya bergantung pada pasokan, tetapi juga pada kemampuan diplomasi dan juga strategi nasional.