Memasuki minggu ketiga pascagempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus lalu, para siswa di SMP Negeri 2 Ende, Kabupaten Ende, secara resmi kembali memulai aktivitas belajar mengajar di sekolah. Namun, guna mengantisipasi risiko gempa susulan, pihak sekolah menerapkan mekanisme sistem shifting atau pembagian jadwal kelas.
Pantauan Jurnalis Metro TV, Dashya Hutauruk, di lokasi pada hari kedua masuk sekolah, para siswa tampak antusias kembali ke kelas dengan mengenakan seragam lengkap. Meski suasana pemulihan masih berlangsung, kegiatan belajar tetap berjalan dengan pengawasan ketat terhadap protokol keselamatan.
Pembagian Waktu Belajar
Penerapan sistem shifting ini dilakukan untuk memastikan jumlah siswa di dalam ruangan tidak terlalu padat, sehingga memudahkan proses evakuasi jika sewaktu-waktu terjadi guncangan. Adapun pembagian waktunya adalah sebagai berikut:
- Shift Pertama: Dimulai pukul 07.15 hingga 09.15 WITA.
- Shift Kedua: Dimulai pukul 09.30 hingga 11.30 WITA.
"Sistem shifting ini kami terapkan untuk mengurangi kepadatan jumlah siswa di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah. Hal ini penting untuk mengurangi risiko karena guncangan gempa susulan masih mungkin terjadi," kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 2 Ende, Emmanuel Natalis Bego, dikutip dari tayangan
Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Selasa 1 September 2026.
Bekali Siswa Pengetahuan Mitigasi
Sebelum memulai pembelajaran tatap muka secara luring, pihak sekolah telah melakukan koordinasi dengan komite sekolah dan perwakilan orang tua siswa. Selain itu, para guru juga telah memberikan pembekalan khusus mengenai mitigasi bencana kepada para murid.
Siswa diajarkan langkah-langkah evakuasi mandiri, seperti titik kumpul yang aman dan cara melindungi diri saat berada di dalam kelas. Langkah ini diambil agar para siswa memiliki kesiapan mental dan fisik dalam menghadapi situasi darurat.
"Respon orang tua sangat mendukung. Kami selalu memberi pemahaman kepada anak-anak agar mereka tetap waspada dan berhati-hati selama berada di sekolah," ucap Emmanuel.
Kembalinya anak-anak ke bangku sekolah diharapkan menjadi titik awal pemulihan psikologis bagi para siswa yang
terdampak bencana, sekaligus memastikan hak pendidikan mereka tetap terpenuhi di tengah situasi darurat.