Kursi dan Meja Sekolah Ditata Tandai Pemulihan Pascagempa

Personel kepolisan Polres Nagekeko membersihkan ruang kelas di SD Inpres Danga. Foto: Metrotvnews/Anggi Tondi.

Kursi dan Meja Sekolah Ditata Tandai Pemulihan Pascagempa

Anggi Tondi Martaon • 1 September 2026 07:49

Nagekeo: Kursi dan meja SDN Inpres Danga, Kecamatan Aesea, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), tampak berantakan pagi itu. Debu sisa-sisa gempa masih menyelimuti alat-alat belajar mengajar tersebut.

Pemandangan itu tampak dari kaca jendela SDN Inpres Danga yang retak. Sebagian juga pecah karena gempa 7,7 magnitudo pada 15 Agustus 2026. Kini, NTT mulai bangkit, kursi dan meja ditata menandai pemulihan pascagempa.

Metrotvnews menyaksikan bagaimana masyarakat, relawan, anggota Polres Nagekeo, dan TNI bahu membahu membersihkan sekolah. Satu per satu pintu yang terkunci mulai dibuka. Udara pagi langsung memasuki ruangan yang ditinggal selama dua pekan lebih itu. 

Susunan meja dan kursi sangat tidak beraturan karena guncangan gempa. Debu tebal juga hinggap di atas meja, karena sudah tidak digunakan selama beberapa pekan.

Selain itu, loteng kelas mengalami kerusakan. Tumpukan pasir bercampur semen juga terlihat di dekat dinding yang retak. 

Bermodalkan sapu dan masker, para personel langsung membersihkan ruangan kelas. Material dinding retak disapu dan mengakibatkan ruagan tersebut dipenuhi debu.

Sambil menahan napas dan menyepitkan mata agar tidak kelilipan, mereka menyapu lantai kelas. Setelah itu, meja kembali disusun dan dilap menghilangkan debu yang menempel di permukaan tempat belajar tersebut.

Dalam waktu kurang satu jam, semua kelas selesai dibersihkan. Perhatian beralih ke pekarangan yang penuh daun kering. Daun tersebut disapu dari sisi pekarangan menuju tengah halaman. Setelah semua tertumpuk, daun dibakar.

Tunggu pengajuan tenda


Meski sudah dibersihkan, pembelajaran belum bisa dilakukan di sekolah. Sebab, fasilitas pendidikan yang terdiri atas 13 ruangan kelas, satu aula, satu ruangan guru, satu ruangan kepsek, satu ruangan UKS, satu ruangan perpustakaan itu retak.

Kepala SDN Impres Danga, Modesta A B Chlehang, tak ingin ambil risiko memaksakan pembelajaran terpusat di sekolah. Pihaknya masih menunggu pegajuan tenda darurat untuk siswa belajar. 

"Pengajuan sudah kami sampaikan ke BNPB,"  kata Modesta.


Kondisi gedung SD Inpres Danga usia diguncang gempa magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Foto: Metrotvnews/ Anggi Tondi.

Modesta berharap proses pengajuan tersebut dapat segera disetujui sehingga, para siswa kembali belajar di sekolah. Untuk sementara waktu, proses belajar mengajar dilakukan di tenda pengungsian.

Meski belajar di tempat darurat, siswa tetap dipantau. Guru datang ke tenda-tenda pengungsian selama masa tanggap darurat. Hal itu dilakukan untuk memastikan anak-anak belajar dengan baik.

(Gabriella Thesa Widiari)