17 October 2026 14:51
Jakarta: Komunitas Rangkul Tangan (Rantang) menghadirkan ruang belajar bagi anak-anak marginal di Jakarta melalui program Sehari Mengajar. Salah satu kegiatan pembelajaran tersebut berlangsung di kolong flyover Cilincing, Jakarta Utara, untuk meningkatkan motivasi belajar sekaligus memberikan kesempatan pendidikan yang lebih setara bagi anak-anak.
Di tengah debu dan kebisingan kendaraan berat yang melintas, anak-anak berusia 5 hingga 13 tahun tetap antusias mengikuti pembelajaran bersama para relawan. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya Rantang menjangkau anak-anak yang masih memiliki keterbatasan akses pendidikan.
Founder Komunitas Rangkul Tangan, Malika Nur Eman, mengatakan Rantang merupakan komunitas nonprofit yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan. Komunitas ini didirikan pada 2024 sebagai bentuk kepedulian terhadap persoalan sosial, khususnya keterbatasan pendidikan yang dialami anak-anak di wilayah marginal.
“Jadi komunitas Rangkul Tangan ini atau biasa disebut Rantang, merupakan sebuah komunitas sosial nonprofit yang mana tujuan utama kami adalah untuk berkontribusi terhadap isu-isu sosial, terutama pendidikan,” ujar Malika dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Sabtu 17 Oktober 2026.
Melalui program Sehari Mengajar, Rantang mendatangi sejumlah wilayah marginal di Jakarta untuk menghadirkan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mendorong semangat anak-anak dalam menuntut ilmu.
“Nah untuk hari ini yang sedang kami jalankan itu adalah program utama kami, yakni Sehari Mengajar. Yang mana tujuan utama kami adalah kami mendatangi wilayah-wilayah marjinal yang ada di Jakarta,” katanya.
Sejak berdiri pada 2024, Rantang telah mengadakan kegiatan pembelajaran di lebih dari 10 wilayah marginal di Jakarta dan memberikan dampak kepada sekitar 500 anak. Kegiatan belajar dilaksanakan dua kali dalam sebulan, biasanya pada Sabtu atau Minggu, dengan jumlah peserta berkisar 20 hingga 40 anak dalam setiap pertemuan.
Selain memberikan pendampingan belajar, Rantang membuka kesempatan bagi generasi muda untuk terlibat sebagai relawan. Hingga kini, lebih dari 500 relawan telah berpartisipasi dalam kegiatan komunitas tersebut. Sebagian besar merupakan mahasiswa dan pekerja muda yang ingin berbagi ilmu serta pengalaman dengan anak-anak.
Salah satu relawan, Ino, mengaku senang dapat mendampingi anak-anak, terutama ketika mendengar mereka menceritakan cita-cita dengan penuh semangat.
“Pengalaman berkesan, paling berkesan sebenarnya waktu ketemu adik-adik yang masih kecil terus nanyain soal cita-cita mereka sih. Pas mereka ceritakan cita-cita mereka dengan kayak excited, bangga,” ujar Ino.
Meski demikian, mengajar anak-anak usia dini memiliki tantangan tersendiri. Para relawan perlu menjaga perhatian peserta sekaligus memastikan materi yang diberikan dapat dipahami.
“Tantangan sebenarnya karena kita mostly mengajar anak-anak yang masih kecil, jadi sebenarnya handle crowd sih. Jadi kayak gimana me-maintain adik-adik, terus kayak tetap membaur dengan adik-adik, dan memastikan kalau apa yang kita ajarkan walaupun sedikit tapi mereka dapat impact-nya,” katanya.
Bagi anak-anak peserta, kegiatan tersebut menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan. Jihan, salah satu peserta, mengatakan dirinya senang mengikuti pembelajaran karena para relawan menghadirkan permainan dan suasana yang membuat anak-anak tertawa.
“Senang, kalau misalnya ini tuh kalau misalnya udah mau selesai pasti banyak game, terus anak-anak juga pasti ketawa-ketawa terus,” kata Jihan.
Ino berharap semakin banyak anak muda yang bergabung dengan Rantang untuk berbagi waktu dan mengajar anak-anak di wilayah marginal. Ia juga berharap kegiatan belajar di luar sekolah dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Melalui program Sehari Mengajar, Komunitas Rangkul Tangan berupaya menghadirkan kesempatan belajar yang lebih setara bagi anak-anak sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap pendidikan.