Bundaran HI Bersinar dalam Perayaan Waisak, Wujud Nyata Toleransi di Jakarta

30 May 2026 17:31

Semangat toleransi dan keberagaman terpancar kuat di jantung Ibu Kota saat Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggelar perayaan Waisak 2570 Buddhist Era di kawasan Bundaran HI pada Jumat, 29 Mei 2026. Acara ini tidak hanya menjadi seremoni keagamaan, tetapi juga penegasan identitas Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan harmonis.

Kawasan ikonik tersebut dipadati oleh ribuan warga, mulai dari masyarakat lokal, pengunjung dari luar daerah, hingga wisatawan mancanegara. Mereka antusias menyaksikan rangkaian acara yang menghadirkan pertunjukan musik, penampilan seni, serta instalasi dan ornamen pencahayaan yang memukau.

Mengangkat tema 'Glow of Peace' (Cahaya Kedamaian), acara ini menjadi bagian dari inisiasi Pemprov DKI Jakarta. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, dalam sambutannya menekankan bahwa instalasi cahaya di Bundaran HI memiliki makna filosofis yang mendalam, bukan sekadar hiasan kota.

"Cahaya di Bundaran HI bukan hanya hiasan kota, ini adalah doa yang diterangi bersama agar Jakarta terus menjadi rumah yang damai, toleran, adil, dan menentramkan seluruh warganya," ujar Rano Karno yang dikutip Selamat Pagi Indonesia pada Sabtu 30 Mei 2026. 

Rano Karno juga menambahkan bahwa makna Tri Suci Waisak mengingatkan pada jalan bijaksana, welas asih dan harmoni. Nilai-nilai luhur itu melampaui segala batas, identitas dan menyentuh nurani setiap warga yang hidup berdampingan dalam keberagaman dengan harapan untuk hidup rukun dan saling memuliakan.

"Saya berharap Glow of Peace bukan hanya memberikan pengalaman yang indah dilihat, tetapi juga dapat dirasakan. Semoga setiap cahaya yang kita saksikan malam ini, menyalakan kembali asa bahwa Jakarta dapat tumbuh sebagai kota yang aman, nyaman, penuh kasih dan menyentuh lembut setiap kita," tambahnya.
 

Baca juga: Puluhan Bhikkhu Gelar Ritual Air Berkah Waisak di Umbul Jumprit, Simbol Kesucian dan Kedamaian

Selain pesan spiritual, Rano Karno mengajak para tokoh umat Buddha dan seluruh elemen masyarakat untuk mulai membenahi Jakarta melalui langkah sederhana, yakni memilah sampah dari rumah, tempat ibadah dan lingkungan sekitar. Menurutnya, kebaikan besar selalu berawal dari kebiasaan kecil yang dijaga bersama.

Pemprov DKI Jakarta melalui Disparekraf menilai bahwa pemanfaatan ruang publik untuk perayaan lintas agama memberikan dampak positif, baik secara sosial maupun ekonomi. Meskipun angka pasti perputaran uang masih memerlukan kajian lebih lanjut, antusiasme masyarakat dan aktivitas pelaku usaha ekonomi mikro di sekitar lokasi menjadi indikator bergeraknya roda ekonomi Jakarta.

"Dengan adanya antusias masyarakat kemudian dengan adanya kawan-kawan yang melakukan usaha-usaha ekonomi kecil, tentu itu bagi kita adalah bukti perputaran ekonomi Jakarta bergerak," ungkap Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekda DKI, Suharini Eliawati.

Perayaan Waisak di ruang terbuka ini menambah daftar panjang kegiatan lintas agama yang difasilitasi oleh Pemprov DKI, menyusul perayaan Natal, malam takbiran, hingga Nyepi yang telah digelar sebelumnya. Hal ini merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah dalam menjaga iklim toleransi di Ibu Kota.

Perayaan Waisak 2026 di Bundaran HI ini lebih dari seremoni keagamaan. Perayaan ini membawa pesan bahwa Kota Jakarta merupakan Kota Global yang harmonis, toleran dan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.

(Anggie Meidyana)