Jakarta: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak hanya membakar hutan, tetapi juga mengancam hak anak untuk menghirup udara bersih. Hingga 17 Oktober 2026, tercatat 10.734 titik panas di sejumlah wilayah Indonesia. Di tengah kondisi tersebut, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mencapai 311.363 kasus, termasuk 70.239 kasus pada anak berusia di bawah lima tahun.
Selain balita, kelompok lanjut usia (lansia) juga terdampak, dengan 49.634 kasus ISPA tercatat. Sementara itu, jumlah ibu hamil, penderita asma, dan pekerja luar ruangan yang terdampak masih dalam pendataan.
Sejumlah daerah berstatus siaga dan tanggap darurat
Sejumlah daerah telah menetapkan status siaga maupun tanggap darurat karhutla. Daerah berstatus siaga darurat meliputi:
- Riau
- Sumatera Selatan
- Jambi
- Kalimantan Timur
- Kalimantan Selatan
Sementara itu, daerah yang berstatus tanggap darurat
karhutla meliputi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Meluasnya karhutla dan paparan asap berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.
Asap karhutla mengancam kesehatan anak
Paparan asap
karhutla dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Selain ISPA, asap juga berisiko menyebabkan iritasi mata dan kulit, memperburuk penyakit kronis, serta mengganggu fungsi pernapasan. Dalam kondisi tertentu, paparan berat atau berkepanjangan bahkan dapat menyebabkan kerusakan paru permanen.
Anak-anak membutuhkan perhatian khusus karena paparan asap dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari mereka. Karena itu, perlindungan dari asap perlu dilakukan, terutama ketika kualitas udara memburuk.
Cara melindungi anak dari paparan asap
Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat asap
karhutla, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah berikut:
- Kurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika asap pekat atau kualitas udara memburuk.
- Gunakan masker sesuai usia dan kondisi. Masker tidak dianjurkan untuk anak berusia di bawah dua tahun.
- Jaga kesehatan dan daya tahan tubuh, termasuk memastikan kebutuhan istirahat dan asupan cairan terpenuhi.
- Segera cari pertolongan medis jika muncul keluhan kesehatan, terutama gangguan pernapasan.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan RI, Aji Muhawarman, mengingatkan orang tua agar tidak mengabaikan tanda gangguan pernapasan pada anak.
“Jika anak mengalami sesak napas, napas cepat, sulit menyusu atau minum, segera bawa ke fasilitas kesehatan. Penggunaan nebulizer harus sesuai indikasi dan petunjuk tenaga medis, bukan dilakukan sembarangan secara mandiri,” ujar Aji.
Hak anak atas udara bersih perlu dilindungi
Tingginya angka kasus ISPA di tengah
karhutla menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran tidak berhenti pada hutan dan lahan yang terbakar. Anak-anak yang tidak memiliki kendali atas kondisi lingkungan justru ikut menanggung risiko kesehatan akibat udara yang tercemar.
Penanganan
karhutla perlu berjalan seiring dengan upaya melindungi masyarakat dari paparan asap, terutama anak-anak. Sebab, hak untuk tumbuh sehat dan menghirup udara bersih merupakan bagian penting dari perlindungan anak yang tidak boleh diabaikan.