Jakarta: Kebakaran hutan bukan hanya menghanguskan pepohonan, tetapi juga mengancam habitat satwa liar. Di Kalimantan Timur, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat 11 orangutan harus dievakuasi ke kandang penampungan di Samboja, Kutai Kartanegara.
Orangutan merupakan satwa liar yang seharusnya hidup bebas di hutan. Namun, terlalu lama berada di kandang evakuasi berisiko memengaruhi perilaku dan kesiapan mereka untuk kembali ke habitat alami. Karena itu, proses rehabilitasi perlu dilakukan dengan persiapan yang matang.
1. Rentan Bosan dan Kehilangan Stimulasi Alami
Melansir
Mongabay Indonesia, meskipun mendapatkan perawatan medis, asupan nutrisi yang terjamin, serta program pengayaan (
enrichment) harian dari para penjaga, masa tinggal yang terlalu lama di kandang evakuasi berisiko memicu stres dan kebosanan (
boredom).
Selain itu, keterbatasan ruang gerak membuat orangutan tidak bisa leluasa melakukan aktivitas seperti di hutan. Padahal, aktivitas tersebut penting untuk mempertahankan perilaku alaminya, seperti:
- Memanjat dan berayun dari satu pohon ke pohon lain.
- Mencari dan memilih pakan alami.
- Membuat sarang di pohon.
- Mengeksplorasi lingkungan dan merespons ancaman di alam bebas.
Kondisi di kandang tidak sepenuhnya bisa menggantikan stimulasi yang biasa mereka dapatkan di hutan. Karena itu, pengelola tetap memberikan kegiatan pengayaan untuk membantu orangutan mengekspresikan perilaku alaminya.
2. Proses Pelepasliaran Membutuhkan Persiapan Matang
Mendorong orangutan kembali ke hutan membutuhkan kesiapan yang matang dan tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Selain memastikan kondisi fisik dan kesehatan, pengelola juga perlu menilai kemampuan satwa untuk hidup mandiri di alam.
Pemetaan dan survei lokasi pelepasliaran juga perlu dilakukan untuk memastikan kawasan tersebut aman dari ancaman perburuan, perambahan, dan kerusakan habitat.
Dalam kasus 11 orangutan di Samboja, evakuasi dilakukan setelah kebakaran mengancam kawasan Sekolah Hutan yang dikelola Yayasan Jejak Pulang. Menurut laporan Mongabay Indonesia, pengelola telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau dan potensi kebakaran.
Rehabilitasi dan pelepasliaran yang terstruktur menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian populasi orangutan Kalimantan. Namun, upaya tersebut juga perlu didukung perlindungan habitat agar orangutan memiliki tempat yang aman untuk hidup kembali.
Nah, kebakaran hutan tidak hanya berdampak saat api melalap kawasan hutan, tetapi juga dapat menimbulkan persoalan jangka panjang bagi satwa yang kehilangan habitatnya. Bagi 11 orangutan di Samboja, kembali ke hutan bukan sekadar keluar dari kandang, melainkan membutuhkan habitat yang aman dan kesiapan untuk hidup mandiri.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Sofwa Najla Tsabita Sunanto)