Tantang Trump, Iran Sebut Selat Hormuz Masih dalam Genggamannya

6 May 2026 12:26

Pemerintah Iran kembali menegaskan kedaulatan penuh atas Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat. Teheran menolak inisiatif Washington yang dinamakan 'Project Freedom' dan menyebutnya sebagai upaya yang menemui jalan buntu atau deadlock.

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Said Abbas Araghchi, menyatakan bahwa perkembangan terbaru di Selat Hormuz memperjelas satu hal bahwa tidak ada solusi militer bagi krisis politik di kawasan Asia Barat. Araghchi dengan tegas menentang Project Freedom yang digembar-gemborkan oleh Donald Trump untuk menekan Iran.

Menurut Araghchi, proyek tersebut bukanlah solusi keamanan pelayaran, melainkan sebuah proyek kebuntuan yang dirancang untuk menyelamatkan muka agresor dari kekalahan politik atas Iran. Pernyataan Araghchi muncul saat Republik Islam terus menunjukkan kekuatannya melalui kemampuan pertahanan dan kendali ketatnya atas jalur air strategis tersebut.

Sementara itu Komandan Senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Jenderal Yadollah Javani, menegaskan bahwa setiap kapal yang melintas di Selat Hormuz wajib berkoordinasi dengan otoritas Iran demi keamanan pelayaran. Hingga saat ini, Iran masih memberlakukan larangan melintas bagi kapal-kapal yang terkait dengan rezim Zionis Israel dan Amerika Serikat.

Javani juga menuding Donald Trump telah berbohong dengan mengklaim bahwa pembukaan Selat Hormuz dilakukan demi alasan kemanusiaan, padahal AS terus melakukan agresi yang melanggar hukum internasional di perairan Iran.
 

Baca juga: AS Akhiri 'Epic Fury' di Iran, Hikmahanto: Trump Tak Mau Terlihat Kalah Perang

Kebuntuan Amerika yang tidak mampu berunding dengan Iran membuat Washington menyiapkan rencana lanjutan. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) merilis rekaman jet tempur F/A-18 Super Hornet yang bersiap dan lepas landas dari USS Abraham Lincoln untuk melanjutkan agresi lautnya terhadap Iran di tengah kebuntuan negosiasi. Lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut dikerahkan dalam Project Freedom AS.

Merespons agresi Trump dengan Project Freedom-nya, Angkatan Laut Iran langsung bergerak dengan menembakkan rudal dan drone sebagai peringatan kepada kapal perang AS yang mendekati perairan Selat Hormuz. Sebuah fregat milik Angkatan Laut AS yang melintas dekat Pelabuhan Jask, Iran Selatan, dihantam oleh dua rudal setelah mengabaikan seruan untuk menjauh. 

Pihak Angkatan Laut Iran menyatakan bahwa penggunaan rudal jelajah, drone tempur, hingga roket terpaksa dilakukan demi membela kedaulatan Iran dan merespons pelanggaran keamanan pelayaran yang dilakukan oleh armada Amerika Serikat.

Akibat perlawanan tersebut, kapal-kapal perang AS dilaporkan memilih untuk mundur dan meninggalkan kawasan setelah terdeteksi berlayar di dekat Pelabuhan Jask.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)