Jakarta: Indonesia kembali dihadapkan pada aktivitas vulkanik yang terjadi hampir bersamaan di sejumlah wilayah. Dalam satu hari saja, ada empat gunung api yang tercatat mengalami erupsi.
Di antara erupsi tersebut, aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian besar karena sebaran abu vulkaniknya berdampak hingga ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra. Abu vulkanik bukan hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan dan keselamatan penerbangan.
4 gunung vulkanik erupsi bersamaan
Pada Minggu, 6 September 2026, tercatat setidaknya ada empat gunung api di Indonesia yang mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan. Di selat Sunda, ada Gunung Anak Krakatau yang mengalami rangkaian erupsi yang dimulai sejak Jumat, 4 September. Informasi dari PVMBG bahkan menyebutkan bahwa memang Gunung Anak Krakatau sudah erupsi sejak awal Juli lalu, kemudian aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau ini terus menerus terjadi dan saat ini berstatus level 3 atau siaga.
Di Maluku Utara, Gunung Ibu juga mengalami erupsi pada Minggu pagi sekitar pukul 4.55 waktu Indonesia Timur. Sementara di Nusa Tenggara Timur, Gunung Ile Lewotolok di Lembata juga erupsi pada pukul 6.41 waktu Indonesia Tengah, dan gunung ini saat ini berstatus level 2 atau waspada. Sementara di Jawa Timur, Gunung Sumeru yang kembali erupsi sekitar pukul 7.51 waktu Indonesia Barat, di mana saat ini statusnya juga berada di level 3 atau siaga.
Arah sebaran abu vulkanik
Aktivitas gunung api di Indonesia tentunya terus dipantau dan diupdate secara berkala, termasuk adanya potensi bahaya, terutama dampaknya terhadap aktivitas masyarakat di sekitarnya. Salah satu yang harus kita perhatikan adalah radius aman untuk beraktivitas, dan hindari jarak yang dinyatakan tidak aman oleh otoritas terkait. Perhatian saat ini tertuju pada sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
BMKG mendeteksi sebaran abu yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu. Sampai dengan hari ini, pemirsa pukul 05.00 waktu Indonesia Barat, BMKG mendeteksi abu vulkanik bergerak menjauhi Gunung Anak Krakatau, dengan pola berbeda sesuai dengan ketinggiannya. Di lapisannya rendah, ini hingga ketinggian 4,57 km, abu bergerak ke arah Tenggara hingga Barat Laut, yang mencakup sebagian wilayah Jakarta, kemudian wilayah Banten, Lampung, sampai ke Jawa Barat.
Untuk wilayah ini, abu berpotensi untuk memengaruhi kualitas udara dan juga jarak pandang. Sementara kalau kita melihat pada lapisan yang lebih tinggi, yaitu sekitar 15,24 km, abu bergerak ke arah Barat Daya, sampai Barat. Ini mencakup wilayah Samudera Hindia di sebelah Barat hingga Barat Daya Bengkulu, kemudian juga berdampak di Provinsi Lampung dan juga di Provinsi Banten.
Di wilayah yang tinggi inilah yang membuat abu berpengaruh pada aktivitas penerbangan, sehingga sejumlah bandara masih ditutup sementara karena ruang udara terdampak abu vulkanik dan sangat membatasi jarak pandang. Adapun penutupan sementara bandara harus kita pahami karena ini adalah demi keselamatan penerbangan. Dan terupdate-nya ada 8 bandara yang perlu menghentikan sementara operasionalnya, yaitu Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdana Kusuma, Radin Inten 2 Lampung, Budiarto Curug, Pondok Cabe Jakarta, Husein Sahastra Negara Bandung, Taufik Kiemas Lampung, dan juga Atung Bungsu Sumatera Selatan.
Sejumlah daerah terapkan belajar daring
Dampak dari sebaran abu vulkanik juga dirasakan pada aktivitas masyarakat dan salah satu kelompok rentani yang menjadi perhatian adalah untuk anak-anak. Sejumlah pemerintah daerah sudah memutuskan untuk mengubah proses pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh secara daring atau PJJ. Kalau di DKI Jakarta, pemirsa PJJ ini sudah diterapkan untuk seluruh satuan pendidikan, mulai dari hari ini Senin 7 September sampai waktu yang belum ditentukan atau kita masih melihat atau pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini masih akan memantau bagaimana perkembangan situasi terkininya.
Sementara kebijakan serupa juga diterapkan di Provinsi Lampung, di mana Gubernur Lampung juga sudah mengeluarkan surat edaran PJJ berlaku pada 7 hingga 8 September sambil akan terus memantau perkembangan. Di Banten, khususnya untuk di Kabupaten Serang, sudah dikeluarkan imbauan untuk pembelajaran jarak jauh yang diterapkan di tujuh kecamatan hingga jenjang sekolah menengah pertama yang menjadi kewenangan dari pemerintah Kabupaten Serang. Informasi terbaru bahkan dari pemerintah Provinsi Banten juga sudah menerapkan PJJ dengan mengeluarkan imbauan bagi seluruh Kabupaten Kota.
Ada pun imbauan PJJ di Provinsi Banten ini berlaku selama tiga hari mulai tanggal 7 sampai dengan 9 September mendatang sambil akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Lindungi diri dari bahaya abu vulkanik
Ada berbagai imbauan yang sudah diberikan oleh lintas lembaga dan beberapa di antaranya ini adalah pertama menggunakan masker dan juga pelindung mata etika sedang beraktivitas di luar ruangan. Karena abu vulkanik ini bisa mengiritasi saluran pernafasan mata bahkan kulit. Karena itu aktivitas di luar rumah atau di luar ruangan juga sebaiknya dikurangi ketika paparan abu sedang meningkat seperti saat ini.
Yang kedua Anda bisa menutup rapat pintu dan juga jendela ruangan untuk menghindari abu masuk ke ruangan Anda beraktivitas sehari-hari. Jangan lupa untuk melindungi makanan, wadah air dan sumber air supaya tidak terkontaminasi abu dan tetap aman untuk dikonsumsi.
Yang ketiga pemirsa abu sudah masuk ke dalam ruangan, pastikan Anda membersihkannya dengan menggunakan sapu atau kain yang lembab. Hindari menyapu abu dalam kondisi kering atau dengan sapu lap yang kering. Ini karena bisa membuat partikel abu kembali terbang dan juga bisa berpotensi terhiru. Yang paling penting bagi Anda yang tinggal di sekitar gunung api yang sedang aktif ini selalu pastikan Anda memperhatikan radius atau jarak aman yang sudah ditetapkan oleh otoritas setempat dan selalu ikuti perkembangan informasi yang resmi.
Erupsi gunung api memang tidak selalu dapat diprediksi secara pasti tapi risikonya dapat dikurangi dengan kesiapsiagaan. Di tengah aktivitas empat gunung api yang terjadi hampir bersamaan ini, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang belum bisa dikonfirmasi serta mengutamakan keselamatan, waspada, siaga selalu ikuti informasi resmi dari otoritas terkait.
Sumber: Redaksi Metro TV