Pemerintah Pastikan Stok Pangan Surplus, Harga Tetap Stabil saat Lebaran

Zein Zahiratul Fauziyyah • 24 March 2026 11:45

Jakarta: Ketersediaan pangan nasional yang cukup dan harga yang stabil menjadi sorotan pada momentum Idulfitri 1447 Hijriah. Kondisi ini dinilai memberi dampak positif bagi seluruh rantai pangan, mulai dari petani sebagai produsen hingga masyarakat sebagai konsumen.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyatakan, stabilitas ini merupakan hasil kerja bersama dalam meningkatkan produksi, memperkuat cadangan pangan, serta menjaga distribusi dan pengendalian harga di pasar. 

Ia menegaskan pemerintah berupaya memastikan seluruh pihak merasakan manfaat dari kondisi tersebut.

"Kita ingin semua tersenyum. Petani tersenyum karena harga hasil panennya baik, pedagang tersenyum karena barang tersedia dan bisa dijual, dan masyarakat juga tersenyum karena harga pangan terjangkau," ujar Amran dalam keterangannya, Minggu, 22 Maret 2026.

Berdasarkan data pemerintah, stok beras nasional berada dalam kondisi kuat. Cadangan Beras Pemerintah di gudang Bulog mencapai sekitar 4,09 juta ton, ditambah stok di masyarakat sekitar 11–12 juta ton serta potensi panen dalam waktu dekat sekitar 12 juta ton.

Secara keseluruhan, kekuatan stok beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 28 juta ton atau cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 11 bulan ke depan.

Produksi beras juga menunjukkan tren peningkatan, seiring panen raya yang berlangsung di berbagai daerah pada periode Februari hingga April 2026. Dengan kebutuhan beras nasional sekitar 2,59 juta ton per bulan dan produksi yang berkisar antara 2,6 hingga 5,7 juta ton per bulan, kondisi ini menempatkan Indonesia dalam posisi surplus.

Selain beras, sejumlah komoditas strategis lain seperti cabai rawit, daging ayam, dan bawang merah juga tercatat mengalami surplus. Kondisi tersebut turut menjaga stabilitas harga di pasar, bahkan beberapa komoditas seperti cabai mulai menunjukkan tren penurunan harga.

Amran menegaskan bahwa pemerintah terus menjaga keseimbangan harga agar tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Menurutnya, harga yang terlalu tinggi akan memberatkan masyarakat, sementara harga yang terlalu rendah dapat merugikan petani.

"Harga pangan tidak boleh terlalu tinggi karena memberatkan masyarakat, tetapi juga tidak boleh terlalu rendah karena merugikan petani. Pemerintah harus menjaga keseimbangan itu," tegasnya.

Pengawasan terhadap distribusi dan harga juga diperketat dengan melibatkan berbagai pihak guna mencegah penimbunan dan praktik permainan harga, terutama selama periode Ramadan dan Idulfitri.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Zein Zahiratul Fauziyyah)