SD di Sleman Manfaatkan 500 Lebih Galon Bekas Jadi Media Tanam Sayuran Organik

12 October 2026 16:59

Pengenalan edukasi pertanian dan ketahanan pangan diterapkan secara kreatif di SD Negeri Purwosari, Kapanewan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Memanfaatkan lahan terbatas dan limbah sekolah, sebanyak lebih dari 500 galon plastik bekas wadah air minum diubah menjadi pot untuk budidaya aneka jenis sayuran.

Berbagai jenis tanaman seperti kangkung, tomat, sawi, cabai, hingga mentimun ditanam dan dirawat langsung oleh siswa-siswi dari kelas 1 hingga kelas 6. Masing-masing kelas bertanggung jawab mengelola satu kavling dengan pendampingan guru dan paguyuban kelas, mulai dari penyiapan media tanam, pembibitan, perawatan, hingga proses pemanenan dan pemasaran.

Kepala SD Negeri Purwosari, Zainuri, menjelaskan bahwa program diversifikasi kurikulum bertema ketahanan pangan ini mengintegrasikan pendidikan pertanian, peternakan, dan perikanan sejak Juli 2026. Menariknya, pengerjaan program ini menekan biaya operasional hingga hampir nol rupiah karena memanfaatkan potensi limbah internal sekolah.

"Edukasi ketahanan pangan ini kita laksanakan sejak bulan Juli tahun ini, tahun 2026. Alhamdulillah sekarang pertumbuhannya luar biasa. Di SD kita memang ada program diversifikasi kurikulum mengangkat tema ketahanan pangan. Untuk kegiatan ini alhamdulillah kita hampir Rp0 karena kita menggali dari potensi yang sudah ada di sekolah. Untuk pot, sengaja kita menggunakan galon karena memanfaatkan limbah galon yang ada di sekolah," ucap Zainuri, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Senin, 12 Oktober 2026.
 

Penerapan Zero Waste dan Hasil Panen Dipasok ke Warung


Selain memfungsikan galon bekas sebagai wadah pot, SD Negeri Purwosari juga mengusung prinsip ramah lingkungan (zero waste). Daun-daun kering dimanfaatkan sebagai media tanam, sementara sisa makanan dan limbah organik diolah menjadi pupuk cair yang mampu menghasilkan satu ember kompos cair per minggu.

Dengan kuantitas mencapai 500 pot lebih, kebun sekolah ini mampu menghasilkan panen rata-rata hingga 5 kilogram sayuran setiap dua hari sekali. Hasil panen dipasarkan langsung oleh para siswa ke sejumlah warung makan di sekitar sekolah, dan seluruh hasil penjualannya dikembalikan ke paguyuban kelas untuk keperluan modal tanam berikutnya serta menunjang kegiatan belajar siswa.

Program edukasi pertanian berbasis pemanfaatan limbah ini pun disambut antusias oleh para siswa.

"Bahagia sih. Belajar cara merawat tanaman dan cara menanam juga," tutur siswa, Nicolas Syahputra.

Melalui gerakan bercocok tanam sejak dini, pihak sekolah berharap para siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan praktis seputar pertanian organik, tetapi juga menumbuhkan rasa kepedulian terhadap lingkungan dan semangat kewirausahaan sejak dini.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X