Apa Bedanya Sakit Maag dan GERD?-Tips Kesehatan

Wijokongko • 25 September 2026 15:21

Jakarta: Gangguan pencernaan sering kali menjadi keluhan harian yang diabaikan masyarakat. Banyak orang secara refleks menyebut rasa tidak nyaman di perut sebagai sakit maag. Padahal, gejala yang dirasakan bisa jadi merupakan tanda dari penyakit yang berbeda, seperti Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).

Meski kerap dianggap sama karena keduanya melibatkan asam lambung, maag dan GERD memiliki lokasi gangguan, mekanisme, serta penanganan yang berbeda. Maag bukanlah nama penyakit tunggal, melainkan kumpulan gejala akibat iritasi atau peradangan pada dinding lambung. Gejala utamanya berpusat di area perut atas atau ulu hati, seperti rasa perih, mual, perut kembung, dan rasa cepat kenyang saat makan.

Sementara GERD terjadi ketika otot katup pembatas antara lambung dan kerongkongan (sfingter esofagus bawah) melemah atau melonggar. Kondisi ini menyebabkan isi lambung dan asam naik kembali (refluks) ke saluran kerongkongan. Gejala khasnya adalah sensasi hangat hingga terbakar di dada (heartburn), yang sering disertai rasa asam atau pahit di belakang tenggorokan.

Langkah Penanganan yang Tepat


Penanganan maag dan GERD dilakukan dengan menyesuaikan pemicu utama gejalanya. Pada maag, keluhan dapat dikurangi dengan menjaga pola makan tetap teratur dan tidak membiarkan perut kosong terlalu lama. Makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering juga dapat membantu mengurangi rasa perih pada lambung. Selain itu, sebaiknya batasi makanan yang terlalu pedas, asam, atau tinggi lemak karena dapat memicu iritasi lambung. Jika rasa perih muncul, antasida dapat digunakan untuk membantu menetralkan asam lambung.

Sementara itu, pada GERD, diperlukan perubahan kebiasaan untuk mencegah asam lambung naik ke kerongkongan. Setelah makan, beri jeda setidaknya 2-3 jam sebelum berbaring atau tidur. Saat tidur, posisi kepala dan dada dapat dibuat sedikit lebih tinggi, sekitar 15-20 cm. Penggunaan pakaian yang terlalu ketat di area perut juga sebaiknya dihindari. Selain itu, batasi konsumsi kafein, alkohol, dan minuman bersoda serta hindari kebiasaan merokok yang dapat memperburuk gejala. 

Kapan Harus ke Dokter?


Meskipun dapat diredakan dengan perubahan gaya hidup dan obat bebas, masyarakat diimbau untuk segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala bahaya. Gejala tersebut meliputi penurunan berat badan tanpa sebab, kesulitan menelan, muntah terus-menerus, hingga feses berwarna hitam. (Titik Nurmalasari)

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X