Jakarta: Presiden Prabowo Subianto menjadi tamu kehormatan dalam Eastern Economic Forum atau EEF ke-11 di Vladivostok, Rusia. Kehadiran Presiden Prabowo menjadi momentum untuk memperkuat hubungan Indonesia dan Rusia, terutama di bidang ekonomi, perdagangan, maritim, teknologi, dan juga energi.
Poin penting pidato Presiden Prabowo di EEF ke-11
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menekankan pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi saja. Menurut Prabowo, keberhasilan pembangunan harus bisa dirasakan langsung oleh rakyat. Salah satunya adalah memastikan anak mendapatkan makan bergizi, petani mendapatkan pupuk dan harga jual yang adil, serta keluarga yang memiliki rumah yang layak.
Prabowo Subianto juga menyoroti pentingnya pekerjaan produktif bagi anak muda, serta akses listrik yang menjangkau di setiap rumah di desa. Artinya pertumbuhan ekonomi, menurut Prabowo Subianto, harus bermuara pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Indonesia memiliki beragam komoditas dan juga produk. Mulai dari kelapa sawit, perikanan, kopi, karet, tekstil, furniture, hingga barang konsumsi. Indonesia juga memiliki tenaga kerja muda, serta posisi strategis untuk menjangkau pasar ASEAN.
Karena itu Prabowo melihat hubungan kedua negara tidak hanya berpeluang dalam perdagangan saja, tapi juga kerjasama, investasi, dan juga industri.
Presiden juga menyoroti perdagangan Indonesia dan Rusia terus menunjukkan adanya pertumbuhan. Pada di 2025, nilai perdagangan kedua negara ini mendekati USD5 miliar. Angka ini meningkat sekitar 21,7 persen dibandingkan 2024, dan meningkat 33,7 persen bila dibandingkan 2023. Prabowo menilai bahwa angka ini menunjukkan masih besarnya ruang untuk meningkatkan hubungan ekonomi Indonesia juga Rusia. Terlebih lagi di Indonesia dan juga EAEU telah mendatangi perjanjian perdagangan bebas yang diharapkan dapat semakin membuka akses pasar bagi kedua pihak.
Poin pertemuan Prabowo-Putin
Prabowo menilai bahwa EEF dapat menjadi jembatan bagi penguatan kerjasama dan konektivitas kawasan. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo juga menyampaikan permintaan maaf kepada
Presiden Rusia Vladimir Putin karena tidak dapat hadir dalam Hari Nasional Rusia dan KTT ASEAN-Rusia. Prabowo menyebut bahwa kehadiran di Vladivostok kemarin sebagai bentuk untuk memenuhi komitmen terhadap Putin.
Dari sisi ekonomi, volume perdagangan di Rusia disebut meningkat 12% pada 2025. Putin juga menyorot 4 sektor yang dinilai memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan bersama. Yaitu di bidang pertanian, kemudian juga pembangunan kapal, teknologi digital serta energi termasuk energi nuklir.
Pertemuan ini menunjukkan hubungan Indonesia dan Rusia tidak hanya berada di level diplomasi saja, tetapi juga diarahkan pada kerjasama yang lebih konkret di bidang ekonomi, teknologi, energi dan juga maritim.
Sumber: Redaksi Metro TV